Minggu, 27 Februari 2011

Agama, Kodrat Tuhan,dan Manusia MenurutRaden Adjeng Kartini


SUHARTOYO Mahasiswa Fakultas Filsafat
UNIKA Widya Mandala,
Surabaya Tulisan ini ada di dalam buku
Membongkar Rahasia Manusia,
Reza A.A Wattimena (ed),
Kanisius, Yogyakarta, 2010. Kehidupan umat beragama
selalu pasang surut. Raden
Adjeng Kartini hidup di
tengah agama yang legalistik.
Agama pada waktu itu
dijadikan sebagai pembenaran akan perbuatan-perbuatan
yang menyiksa hak-hak
manusia. Agama yang dianut
oleh Kartini adalah agama
Islam. Ia menganut agama
tanpa pernah mengenal agamanya. Selain itu ia
terkena konsekuensi praktis
agama orang tuanya, yakni
keluarganya beragama Islam.
Ia pun beragama Islam. Tanpa
mengerti kejelasan arti agama, ia telah menjumpai
bagaimana ajaran agama
dimanfaatkan untuk
menyiksa perempuan.
Akhirnya ia
mempertanyakan segala sesuatu soal agama. [1] Kartini sangat menolak agama
pada masanya. Agama yang
menyiksa kehidupan manusia,
terlebih para perempuan.
Maka ia tidak setuju dengan
keberadaan agama. Kedua, ia melihat adanya perbedaan
penyebutan Tuhan saja
melahirkan konflik tersendiri. [2] Akhirnya Kartini memiliki konsep tentang agama dan
Tuhan sendiri. Agama yang
menyatukan semua lapisan
dan Tuhan yang satu demi
menghindari pertengkaran
akibat perbedaan agama. [3] Tujuan penulisan ini untuk
memaparkan konsep agama
menurut perspektif Kartini
dengan sebuah pertanyaan,
apa itu agama dalam
perspektif Kartini? Metode yang saya gunakan adalah
analisis teks: kumpulan-
kumpulan Surat Kartini dari
buku yang berjudul Habis
Gelap Terbitlah Terang, dari
Armijn Pane. Kemudian dalam penulisan saya akan
membaginya ke dalam
beberapa bagian 1) Agama
dalam Perspektif Kartini, 2)
Kodrat Manusia dan Tuhan, 3)
Refleksi Atas Agama, Kodrat Tuhan, dan Manusia dalam
Perspektif Kartini, 4)
Kesimpulan, 5) Tanggapan
Kritis, dan 6) Relevansi Agama
dalam Perspektif Kartini Bagi
Kehidupan Beragama di Indonesia. 1.Agama dalam Perspektif
Kartini. Pada bab ini saya akan
memperkenalkan apa itu
agama menurut perspektif
Kartini. Pemikiran tersebut
terdapat di dalam surat-
suratnya yang dilatarbelakangi hadirnya
agama pada zamannya. Dalam
suratnya ke Nona
Zeehandelaary, 6 November
1899, Kartini menyatakan
bahwa dirinya adalah beragama Islam, namun tidak
mengenalnya, “Manakah boleh aku cinta akan
agamaku, kalau aku tiada
kenal, tiada boleh aku
mengenalnya ?” demikian “… lagi pula, sebenarnya
agamaku agama Islam, hanya
karena nenek moyangku
beragama Islam.”[4] Pada zaman Kartini, Agama
Islam dimanfaatkan untuk
mendukung kekerasan yang
dilakukan oleh laki-laki
kepada perempuan. [5] Perempuan dipandang sebagai
nomor dua. Menurut Kartini
tujuan “Allah menjadikan perempuan akan jadi teman
laki-laki, dan tujuan hidupnya
ialah bersuami…dengan laki- laki dengan damai dan
selaras.”[6] Baginya, perkawinan memiliki nilai
luhur, dan bukan sebagai
sarana penyiksaan perempuan
dan pemenuhan nafsu laki-
laki. [7] Sayangnya ajaran agama dimanipulasi untuk
mendukung tindak kekerasan
tersebut. Akibatnya, Kartini
mempertanyakan keberadaan
agama. Keberadaannya yang
menyebabkan penderitaaan
maupun perselisihan. Lalu
munculah pertanyaan, apakah sebaiknya tidak ada agama?
“Benarkah agama itu restu bagi manusia?” [8] Kartini melihat bahwa, “Ya Tuhanku, ada katanya aku berharap, alangkah
baiknya jika tidak agama itu,
karena agama itu, yang
sebenarnya harus
mempersatukan semua
hamba Allah, sejak dahulu- dahulu menjadi pangkal
peselisihan dan perpecahan,
jadi sebab perkelahian
berbunuh-bunuhan yang
sangat ngeri dan bengisnya.
Orang yang seibu-sebapak berlawanan, karena berlainan
cara mengabdi kepada Tuhan
yang esa itu. Orang berkasih-
kasihan dengan amat
sangatnya, dengan amat
sedihnya bercerai-cerai. Karena berlainan tempat
menyeru Tuhan, Tuhan yang
itu juga, terdirilah tembok
membatasi hati yang
berkasih-kasihan. ”[9] Menurut Kartini, “Agama itu menurunkan rahmat kepada
manusia supaya ada
penghubung silaturahim
segala mahkluk Allah. ”[10] Ia meyakini bahwa semua orang
adalah satu saudara.
Persaudaraan bukan
merupakan sekedar kesatuan
relasi biologis, namun kita
adalah mahkluk yang “se- bapak” atau Satu Tuhan Yang Esa.[11] Relasi kesatuan di dalam
agama menunjukkan bahwa
kita adalah satu. Adanya
kesatuan relasi tersebut
menunjukkan relasi kesatuan
yang sangat mendalam dan melampui fisik di antara
manusia. Maka, agama
dimengerti dan diyakini
sebagai pemberi, “… berkah, supaya memperkaribkan semua
mahluk Allah, yang berkulit
putih maupun yang berkulit
hitam, tiada pandang pangkat
perempuan ataupun laki-laki
agama mana yang diperlukan, semuannya kita ini ialah anak
kepada Bapak yang seorang
itu juga, kepada Tuhan yang
Esa.”[12] Kutipan surat kepada Nyonya
van Kol, 21 Juli 1902
mengatakan, bahwa agama
adalah penyatu relasi personal
manusia sebagai satu-
kesatuan, maupun segala mahkluk. Perwujudan
kesatuan tersebut adalah
perbuatan baik, karena agama
itu baik adanya. Maka jika ada
kejelekan pada agama, bukan
agamanya memiliki kejelekan, melainkan
perbuatan manusia yang
menyebabkan kejelekan
terhadap agama. [13] “manusialah yang berbuat hal yang buruk-buruk itu
memakai nama Allah
menyembunyikan
maksudnya yang jahat-jahat.
Kami tiadalah tahu dahulu,
bahwa mulanya (agama) semuanya bagus, tetapi
manusia itu memperburuk
bagus ini (agama yang baik) … dahulu dan sekarang pun
tetap juga tiada bertanya:
apakah agama tuan?
Melainkan: betapa tingkah
laku tuan? Kebaikan, itulah
Tuhan kami yang dahulu, yang senantiasa kami coba
melakukan perintahnya;
sekarang itu tahulah kami
kebaikan itu dan Tuhan satu
adanya. ” [14] Agama dijadikan topeng
untuk berbuat kejahatan.
Bukan agama yang menjadi
titik pengrusakan, melainkan
perbuatan manusia yang
mencari pendasaran pada agama atas kejahatannya. “Itulah sebabnya kami lama membelakangi agama dengan
sungguh-sungguh, karena
banyak kami lihat orang
memakai topeng agama
berkelakuan yang tidak
menaruh kasihan. Lambat laun barulah kami tahu, bukanlah
agama itu yang tiada menaruh
kasihan, melainkan manusia
jugalah yang memperburuk
segala sesuatu yang
semulanya bagus suci itu. ”[15] Untuk itu, agama tidak dapat
dipersalahkan. Pemeluknyalah
yang patut dikaji dalam
tindakannya. Dalam suratnya kepada Tuan
E.C. Abendanon, 31 Januari
1903, Kartini menganjurkan
dengan sangat, agar agama
diajarkan pada penduduk.
Akan tetapi agama yang diajarkan tidak sama dengan
agama yang telah ada pada
masa itu. Sebagaimana yang
dimaksud Kartini dalam
suratnya: “Jika orang hendak mengajarkan agama juga
kepada orang Jawa, ajarlah ia
mengenal Tuhan Yang esa,
Bapak penyayang dan
pengasih itu, yang jadi Bapak
semua mahkluk, orang Kristen, maupun dia orang
Islam, Buddha, Yahudi dan
Sebagainya. Ajarlah dia agama
sebenarnya, ialah agama yang
melekat di rohani biarpun ia
memeluk agama orang islam dan sebagainya ”[16] Maka, dalam perspektif
Kartini, agama adalah sebagai
penyatu relasi antar manusia,
atau ekspresi kesatuan
manusia. Kesatuan agama itu
baik adanya, karena agama itu baik adanya. Jika ada
agama yang tidak baik, bukan
agamanya yang bersalah,
melainkan manusianyalah
yang bertindak dalam setiap
perbuatan jahatnya yang berkedok agama. Akibatnya
citra agama menjadi rusak
atau buruk. 2.Kodrat Tuhan dan
Manusia Dalam surat-suratnya Kartini
menyatakan ada dua kodrat,
yakni kodrat Tuhan dan
manusia. Kedua kodrat
tersebut berbeda, namun
memiliki kesatuan. Kodrat Tuhan dan manusia dapat
menyatu, ketika manusia
memiliki titik kesadaran
bahwa Tuhan ada di dalam
jiwa manusia. Tuhan memiliki kodrat yang
lebih tinggi, kuasa, dan kuat. [17] Dia adalah yang esa. Ia mengatur kehidupan alam
semesta dan membantu
manusia sebagai teman dalam
perjalanan hidupnya. [18] Ia berhak memutuskan segala
sesuatu. Manusia hanya
mampu menimbang.[19] Tuhan digambarkan oleh
Kartini sebagai seorang bapak
yang memiliki. Hal ini
diungkapkan Kartini pada
Nyonya Abendanon, 12
Desember 1902, ketika ia hendak memberi penghiburan
kepadanya, “Serahkanlah kami kepada Tuhan yang Esa, kepada bapak
yang Penyayang Pengasih itu!
Dia akan menolong,
membantu, melipur dan
menerangi jalan kami …Dia mengenal kami, dan Dia
menunjukkan kami dengan
kasih sayang …”[20] Kartini menaruh keyakinan
bahwa Tuhan telah
melindungi, membantu,
menjaga, dan selalu dekat
serta memberi penghiburan
kepada manusia. [21] Tuhan memberikan kewajiban dan
pekerjaan sesuai dengan
kemampuan manusia, karena
Tuhan sangat mengerti
manusia.[22] Begitu luhur kodrat Tuhan,
sebagaimana yang dipikirkan
oleh Kartini dalam suratnya.
Bagaimana dengan kodrat
manusia, karena keberadaan
Tuhan memiliki hubungan dengan manusia dan segala
mahkluk? Kodrat manusia adalah
kemauan (=kehendak).
Kehendak tersebut bukan
merupakan keangkuhan dan
kekerasan, namun kehendak
“… bertuankah dia: Kesucian !”[23] Adanya kehendak ini mengarahkan
manusia pada jalan Tuhan.
“Jalan kepada Allah dan jalan kepada padang kemerdekaan
hayalah satu. Siapa yang
sesungguhnya jadi hamba
Allah, sekali-kali tiada terikat
kepada seseorang manusia,
sebenar-benarnya merdekalah dia.” [24] Kebebasan adalah jalan yang
dilewati oleh manusia untuk
sampai pada Tuhan. Manusia
berkeyakinan dan
mengarahkan pandangan
kepadaNya. Tuhan sendiri yang akan membimbingnya
dengan cinta “… lihatlah, gelap menjadi terang, angin ribut
menjadi angin sepoi-
sepoi.”[25] Dengan cintanya pula, manusia
akan mengalami perubahan.
Yang berubah adalah diri
manusia yang disinari dengan
cinta dan cahayaNya. Semua
yang ada di dalam diri manusia disinari dengan
cahaya cinta kasihNya.
“Alangkah tenang dan damainya di dalam rohani
kami. ”[26] Pertanyaannya, bagaimana dengan
implementasinya dalam hidup
manusia? “Dia (Tuhan) akan menunjukkan …kasih sayangnnya. Bila kami hendak
berbuat baik, maka dia pun
akan membantu kami; bila
kami hendak berbuat jahat
kami pun tak akan lepas dari
hukuman. Kepercayaan itulah yang menantang kami dan
mengamankan dan
mendamaikan hati kami. ”[27] Kutipan di atas menyatakan,
bahwa bukti nyata cinta
Tuhan yang menyinari
manusia ialah membantunya
dalam bersikap. Manusia dapat
bersikap mana yang baik dan buruk. Ketika manusia
berbuat salah, maka ia akan
mendapat hukuman. Jika
manusia berbuat baik, maka ia
akan didukung. Hal ini yang
disebut sebagai cinta kasih. Cinta kasih yang dimaksud
adalah bimbingan Tuhan
dalam hidup manusia atas apa
yang baik dan buruk. Cinta itu
mahakuasa. [28] Implemetasinya, ia akan
menolong dan membantu
orang lain. “… kami sanggup menolong diri kami sendiri. menolong
diri sendiri itu kerap kali sukar
daripada menolong orang lain.
Dan siapa yang sanggup
menolong dirinya sendiri,
akan sanggup menolong orang lain dengan lebih
sempurna.”[29] Kehendak bebas
mengarahkan manusia pada
Tuhan. Dengan bantuan cinta
kasihNya, manusia mengerti
baik dan buruknya suatu
tindakan. Cinta kasihNya selalu mendorong manusia
pada tindakan baik, yakni
menolong diri dan orang lain. Kodrat manusia senantiasa
mengarah pada kodrat Tuhan
dengan bantuan CintaNya. Hal
ini menunjukkan adanya
hubungan antara manusia dan
Tuhan. Dengan adanya hubungan tersebut, manusia
merasakan kedekatan,
keamanan, dan perlindungan
di dalam kehidupan.
Bagaimana hal ini dapat terjadi
di dalam diri Kartini? Surat Kepada Tuang E. C.
Abendanon, 15 Agustus 1902
menjawabi pertanyaan
tersebut. Hal ini terjadi di
dalam diri Kartini, karena ia
melakukan sebuah askese. Askese adalah latihan untuk
menahan keinginan Tubuh
demi nilai tertentu. [30] Askese Kartini adalah berpuasa,
menyepi, dan berjaga-jaga,
atau dalam keadaan siap,
secara pikiran dan tubuh. Bagi
Kartini di dalam askese, orang
akan mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Kedua hal
tersebut disebut pengalaman
“kegelapan ”. Dalam kegelapan inilah, manusia memerlukan
cahaya. [31] Barulah, cahaya itu pun datang dan berada.
Baginya, “Mustahil cahaya akan datang, bila tiada
didahului oleh gelap; bagus,
bagus, buka ?” [32] Dalam beraskese Kartini
mendapatkan permenungan
yang sangat hebat, yakni
“habis malam datanglah siang, habis topan datanglah reda,
habis perang datanglah
menang, habis duka datanglah
suka. ” [33] Temuan ini berasal dari askese Kartini yang tidak
hanya melatih tubuhnya.
Kartini meyakini askese juga
adalah usaha belajar berpikir,
pandai menahan nafsu lapar,
dan menyepikan diri (meditasi). [34] Dapat kita ketahui, askese
Kartini adalah pelatihan tubuh
dan pengembangan pikiran.
Secara khusus, askese Kartini
adalah pengolahan pikiran
manusia untuk terarah pada kodrat Tuhan. Maka, askese ini
menghantar Kartini pada
perjumpaan dan
penemuannya dengan Tuhan
secara mendalam. Baginya,
Tuhan bukan merupakan sekedar seruan. Tuhan hadir di
dalam kehidupan dan
membawa perubahan pada
jiwa Kartini. Tuhan sangat
dekat dengan kehidupan
manusia.[35] Askese merupakan usaha
berpikir. Usaha ini menghantar
pada perjumpaan dan
kesatuan Kartini dengan
Tuhan, sehingga ia
menemukan: “Tuhan kami ialah hati sanubari kami, neraka dan
surga kami ialah sanubari
kami. Bila kami berbuat salah,
sanubari menghukum kami,
bila kami berbuat baik, maka
sanubari kami memberkati kami …sangat berbahagia melihat hati sanubari kami itu
berubah…sangguplah aku kiranya dengan sebenar-
benarnya mengatakan aman
sentosanya, di dalam diri kami
sekarang, betapa terima kasih
dan bahagianya..sekarang
mendapat Dia; karena kini kami tahu, kami rasa, bahwa
senantiasa ada tuhan dekat
kami …”[36] Kutipan surat di atas
menunjukkan betapa
kematangan kartini dalam
beragama. Ia membangun
relasi mendalam secara
personal dengan Tuhan. Dengan segenap pikirannya, ia
telah mencapai titik
pencerahan dan terang akan
keberadaan Tuhan dalam
hidupnya. Keberadaan Tuhan
yang hidup dan mendiami sanubari atau batinnya. Dari
keyakinan ini, ia telah sampai
pada penemuan, dan telah
diungkapkan bahwa Tuhan
adalah sanubarinya. [37] Maka, kodrat Tuhan dan
Manusia merupakan hakikat
yang satu. Kodrat Tuhan
adalah sesuatu yang tinggi.
Kodrat manusia adalah
kehendak bebas yang mengarah pada Kodrat Tuhan
dengan bantuan Cinta Tuhan.
Askese adalah cara untuk
mencapai kodrat Tuhan.
Askese menurut Kartini tidak
hanya pelatihan tubuh, melainkan olah kesadaran
pikiran kepada Tuhan,
sehingga mengalami
kehadiran Tuhan di dalam diri
batin manusia. 3.Refleksi Lebih Jauh Kartini memiliki pandangan
agama yang berbeda pada
zamannya. Agama dalam
pandangan Kartini diyakini
tidak lagi secara institusional. [38] Ia hendak melepaskan diri dari kungkungan
kelembagaan agama. Ia
menghasilkan pemikiran
tentang agama secara mandiri. Kartini tidak
mempermasalahkan akan soal
ritual yang bersifat formal. Ia
telah menyentuh inti
kehidupan agama, tentang
realitas tertinggi, kodrat yang tertinggi dan berkuasa.
Realitas tertinggi di dalam
suratnya disebut sebagai
“Bapak” yang bertahta di atas langit. [39] Maka agama merupakan tempat kehadiran
penuh realitas tertinggi
tersebut. Kehadiran agama sebagai
realitas tertinggi
menunjukkan bahwa agama
sebagai wadah ekspresi Tuhan
secara aktual. Di dalam agama
juga, manusia menemukan Tuhan sebagaimana dipahami
atas ajaran atau keyakinan
agama tersebut. Kartini mengambarkannya
sebagai “Bapak” sebagai sebutan bagi Tuhan yang satu,
karena ia merupakan seorang
penganut monoteisme. [40] Bapak dalam pandangan
Kartini memiliki maksud yang
mendalam, selain ia sangat
mencintai bapaknya sendiri.
Penggunaan kata “Bapak” ini menunjukkan adanya
kedekatan antara Tuhan dan
kartini (sebagai manusia).
Atau adanya relasi personal
yang mendalam yang bersifat
komunikatif. [41] Manusia memposisikan dirinya sebagai
anak. [42] Kodrat Tuhan dan Manusia
telah menunjukkan
kedalaman kartini sebagai
umat beragama. [43] Buktinya kodrat Tuhan yang tinggi dan
melampui kodrat manusia
telah dijembatani, agar dapat
terhubung untuk berelasi. [44] Manusia dapat mencapainya
dengan usaha diri dan bantuan
Tuhan itu sendiri. Usaha
manusia adalah adanya
kehendak bebas. Kehendak
bebas yang diarahkan pada Tuhan, yang diwujudkan pada
perbuatan baik. Usaha
selanjutnya adalah askese
dalam bentuk pengolahan
pikiran, yakni mengatur nafsu
dan keinginan tubuh yang berlebihan. Askese dilakukan
dengan bermatiraga, seperti
puasa, menyepi (meditasi),
dan kesiapsediaan. [45] Manusia mencapai kodrat
Tuhan dengan menyandarkan
pada bantuan Tuhan sendiri.
Tuhan akan memberikan
cahaya cintanya dalam hidup
manusia. [46] Perwujudan cinta tersebut juga harus
dilakukan secara konkret oleh
manusia dalam bentuk
perbuatan baik kepada
sesama. Ia menolong orang,
terlebih yang membutuhkan. Manusia memiliki relasi
personal yang mendalam
antara manusia dan Tuhan.
Relasi ini menyatukan dua
kodrat, sehingga melahirkan
kesatuan kodrat manusiawi dan Tuhan. Sebagaimana yang
dikatakan Kartini, “Tuhan adalah sanubari kami …”[47] Maka, dalam keyakinan
Kartini, Tuhan ada di dalam
diri manusia. Kehadirannya
menjadi penentu sebagai
hakim atas sikap manusia,
baik dan buruk. Ini adalah soal batin. Maka Tuhan adalah
batin manusia, karena
kehadirannya melalui rahmat
cintanya ke dalam batin
manusia sebagai penentu baik
dan buruk. Oleh karena itu, agama
menjadi sarana perjumpaan
aktual Tuhan dan manusia.
Agama menjadi sangat
penting. Manusia
mengarahkan kehendak bebasnya dengan bantuan
cintanya pada Tuhan. Jalan
yang perlu ditempuh adalah
jalan askese. 4.Kesimpulan Saya akan menarik
kesimpulan dari ulasan-ulasan
di atas. Agama dalam
perspektif kartini adalah
wadah ekspresi atau penyatu
kesatuan relasi antar manusia. Esensi atau inti dari agama
adalah adanya zat tertinggi,
yakni “Bapak” sebagai kodrat Tuhan. Dalam pandangan
Kartini, kodrat Tuhan dan
kodrat manusia merupakan
satu kesatuan, karena
kehendak bebas manusia
mengarahkan batinnya pada Tuhan. Dengan begitu,
manusia pun mengalami
kehadiran kesatuan dengan
Tuhan di dalam sanubarinya.
Agama memberikan tempat
bagi ekspresi kodrat Tuhan dan Manusia. Kartini berpendapat agama
adalah relasi personal antar
manusia. Relasi ini mengajak
dan mengandaikan, bahwa
semua agama memiliki
kesamaan pengertian tentang Tuhan maupun ajaranNya.
Kaca mata ini dinamakan
agama pluralisme. Saya tidak
setuju dengan pemikiran
Kartini tentang agama adalah
agama pluralisme. Agama dipandang sebagai satu
kesatuan. Ketika agama
dipandang sama, berarti
Kartini tidak menghargai
bentuk dan masing-masing
keunikan setiap agama- agama. Kartini akan
meniadakan ekspresi yang
dimilliki setiap agama. Dengan
begitu, kalau kita
menggunakan kaca mata
Kartini, kebebasan beragama akan terancam. Manusia tidak
akan memiliki kebebasan
agama. Kita tidak akan pernah
menghargai bentuk dan
model penghayatan masing-
masing agama. Bangsa Indonesia adalah
bangsa yang memiliki banyak
agama. Keberagaman
beragama menunjukkan
bahwa setiap warga
masyarakat memiliki kebebasan untuk beragama.
Jadi, Kebebasan beragama pun
sangat dijamin di Indonesia.
Setiap orang berhak memilih
atau memeluk agama yang
diyakininya. Kekayaan agama dengan beragamnya agama
membuat kita bangga dan
takjub. Akan tetapi, kita tidak bisa
menutup mata. Banyaknya
agama menyebabkan rawan
terjadinya konflik, karena
banyak perbedaan pandangan
dan keyakinan soal agama. Dalam konflik ini tak jarang
kelompok mayoritas akan
selalu menjadi pemenang.
Minoritas selalu tersisih atas
dasar sesat dan sebagainya.
Seolah-olah siapa yang kuat itulah yang benar. Hukum
rimbalah yang berlaku. Tak
jarang terjadi pengrusakan
dan penyegelan tampat
ibadah. Warga melarang
pendirian wihara di Lampung. Alasannya, lingkungan
setempat adalah beragama
Islam, dan orang yang
memeluk adat istiadat asli. [48] Mungkin masih hangat di
ingatan tentang kasus di
Ambon, di mana terjadi
konflik berkepanjangan antar
pemeluk Islam dan Nasrani. Pemikiran Kartini sangat
relevan, yakni soal kedalaman
beragama. Agama dipandang
sebagai penyatu relasi
personal semua manusia.
Agama bertujuan baik. Yang menjadikan tidak baik adalah
tindakan manusia yang jahat
mengatasnamakan agama dan
Tuhan. Dengan kaca mata pemikiran
Kartini, agama malah menjadi
pemisah antar manusia. Tidak
hanya itu, konflik dan saling
membunuh telah terjadi.
Kalau begitu, apakah keberadaan agama tidak
menjadi rahmat atau penyatu
relasi personal semua umat
manusia? Kemudian, apakah
agama mengajarkan manusia
untuk menghancurkan kehidupan manusia sebagai
sesamanya? Bukankah, agama
itu baik adanya? Tampak jelas, bahwa tindakan
manusia yang menodai
kebaikan agama. Agama yang
sebelumnya menjadi sumber
perjumpaan dan mengalirnya
kebaikan telah berubah, akibat tindakan manusia yang
merusak dengan bertopeng
agama. Sebagai umat beragama,
dalam pandang Kartini,
hendaklah kita mambangun
relasi yang mendalam dengan
Tuhan. Relasi ini dibangun
melalui askese dan bantuan cinta Tuhan, sehingga kita
memiliki kedekatan.
Kedekatan dengan Tuhan
akan merubah diri manusia.
Manusia akan mengalami
kehadiran Tuhan di dalam sanubari atau batinnya.
Manusia jadi mampu untuk
menilai baik dan buruk
tindakannya. Agama menjadi
sumber rahmat dan kebaikan. Daftar Pustaka Fernandez, Stephanus Ozias,
1990, Citra Manusia Budaya
Timur dan Barat, Ende- Flores: Nusa Indah. Hardjana, A M, 1993,
Penghayatan Agama: Yang
Otentik & Tidak Otentik, Yogyakarta: Kanisius. Pane, Aemijn, 1997, Habis
Gelap Terbitlah Terang
(terjemahan), Jakarta: Balai Pustaka Tama. Wattimena, Reza A.A, 2009,
Filsafat Manusia Menjadi
Manusia Otentik, Surabaya: (Promanuscripto) Universitas
Widya Mandala.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar