Tampilkan postingan dengan label KM RELIGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KM RELIGI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2011

Penemuan KepitingLafal Allah GegerkanWarga Sumenep


SUMENEP- Warga Sumenep,
Madura, digegerkan dengan
penemuan kepiting berlafal
Allah. Kepiting tersebut
ditemukan Masjuri (30), salah
seorang penangkap kepiting. Saat ditemui di rumahnya,
Masjuri mengatakan, kepiting
tersebut pertama kali
ditemukan di perairan Gersik
Putih Kecamatan Gapura,
tempat biasa dia menangkap kepiting dengan jaring atau
ajurung. “Saat itu saya seharian tidak mendapatkan kepiting.
Namun sekira pukul 16.00
WIB, umpan saya ada yang
menggerakkan. Saat diangkat
kepiting berukuran agak
besar langsung diikat dengan tali rafia, ” tutur Masjuri, Kamis (3/3/2011). Saat membersihkan, Masjuri
kaget melihat keanehan di
cangkang kepiting tersebut.
Tulisan arab ‘alif’, ‘lam’, dan ‘ha’ tertata rapih lengkap dengan harkat dan
membentuk lafal Allah. Keanehan ini pun meyebar ke
pelosok Sumenep. Bahkan
sejumlah daerah di luar
Madura berdatangan ke
rumahnya di Dusun Perreng
Tale, Desa Parsanga, Kabupaten Sumenep, Madura JawaTimur. Namun sayang karena kurang
perawatan, akhirnya sang
kepiting meninggal satu bulan
lalu. “Saya akan merawatnya dengan baik dan tidak akan
menjualnya meskipun dengan
harga berapa pun. Karena
kepiting tersebut membawa
berkah kepada saya dan
keluarga, ” tegasnya.

Kamis, 03 Maret 2011

Asal mula lambang Bulan-Bintang dalam Islam


Assalamu `alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Beberapa versi pengamat sejarah mengatakan bahwa sebenarnya asal muasal lambang bulan bintang berasal dari lambang khilafah Islamiyah terakhir yang dimiliki umat Islam, yaitu Khilafah Turki Utsmani.
Khilafah ini adalah warisan terakhir kejayaan umat Islam.
Memiliki luas wilayah yang membentang dari ujung barat sampai ujung timur dunia. Wilayahnya mencakup tiga benua besar dunia, Afrika- Eropa dan Asia. Ibukotanya adalah kota yang sejak 1400 tahun yang lalu telah dijanjikan oleh
Rasulullah SAW sebagai kota yang akan jatuh ke tangan umat Islam. Rasulullah bersabda, “Qonstantinopel akan kalian bebaskan. Pasukan yang mampu membebaskannya adalah pasukan yang sangat kuat.
Dan panglima yang membebaskannya adalah panglima yang sangat kuat.. ” Berabad-abad lamanya umat Islam memimpikan realisasi kabar gembira Rasulullah itu. Namun sejak zaman Khilafah Rasyidah, Khilafah Bani Umayah hingga Khilafah Bani Abbasiyah, kabar gembira itu tidak pernah juga terealisasi. Memang sebagian Eropa sudah jatuh ke tangan Islam, yaitu wilayah Spanyol dengan kota-kotanya antara lain: Cordova, Seville, Granda dan seterusnya. Namun jantung Eropa belum pernah jatuh secara serius ke tangan Islam. Barulah ketika Sultan Muhammad II yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad Al-Fatih menjadi panglima, jatuhlah kota yang pernah menjadi ibu kota Eropa itu. Lewat pertempuran yang sangat dahsyat dengan menggunakan senjata paling modern di kala itu, yaitu CANON
atau meriam yang sangat besar dan suaranya memekakkan telinga, Muhammad Al-Fatih berhasil menjatuhkan kota konstantininopel itu dan menjadikannya sebagai ibu kota Khilafah Turki Utsmani. Serta menjadikannya pusat peradaban Islam.
Wilayahnya adalah tiga benua dengan semua peradaban yang ada di dalamnya. Saat itu
bulan sabit digunakan untuk melambangkan posisi tiga benua itu. Ujung yang satu menunjukkan benua Asia yang ada di Timur, ujung lainnya mewakili Afrika yang ada di bagian lain dan di tengahnya adalah
Benua Eropa. Sedangkan lambang bintang menunjukkan posisi ibu kota yang kemudian diberi nama Istambul yang bermakna: Kota Islam.
Bendera bulan sabit ini adalah bendera resmi umat Islam saat
itu, karena seluruh wilayah dunia Islam berada di bahwa satu naungan khilafah Islamiyah. Tidak seperti sekarang ini yang terpecah- pecah menjadi sekian ratus negara yang berdiri sendiri hasil dari jajahan barat.
Wajar kalau lambang itu begitu melekat di hati umat dari ujung barat Maroko sampai ujung Timur Marauke.
Inilah lambang yang pernah dimiliki oleh umat Islam secara bersama, bulan dan bintang. Dan lambang ini kemudian seolah menjadi lambang resmi umat Islam dan selalu muncul di kubah- kubah masjid.
Dan kalau kita perhatikan, nyaris hampir semua kubah masjid di berbagai belahan dunia punya lambang ini. Dan banyak institusi umat Islam yang juga memakai lambang ini, misalnya Masyumi di masa lalu. Bahkan di zaman reformasi, di Indonesia muncul Partai Bulan Bintang yang lambangnya
bulan bintang. Wallahu a`lam bish-shawab,
wassalamu`alaikum
warahmatullahi
wabarakatuh.

Senin, 28 Februari 2011

Quran Bicara Tentang Makna DiBalik Urutan Tnggi Jari Tangan

Dari sebegitu jelasnya nama Allah yang telah tercetak di JARI TANGAN itu, mungkin masih banyak dari orang kafir yang tetap saja menyanggahnya. Tabiat orang
kafir. Mereka tidak akan percaya sedikit pun sebelum munculnya para Malaikat Allah yang akan menarik mereka ke dalam api besar sebagai balasan. Kita lupakan orang kafir. Lebih baik kita disini membahas mengenai sesuatu rahasia di balik penciptaan jari-jemari manusia yang mengapa urutan tinggi nya berbeda-beda. Apa makna di balik urutan tinggi jari tangan? Tidak mudah juga untuk menjawab ini. Mungkin jawaban umumnya adalah hal itu diciptakan agar manusia senantiasa mudah menggenggam atau mencengkeram sesuatu didalam aktivitasnya. Namun jika saya boleh membaca atas petunjuk Alquran, maka saya simpulkan bahwa rahasia dibalik tinggi jari yang berbeda-beda itu adalah merupakan TANDA perjalanan
kehidupan manusia itu sendiri. Mari kita segera telusuri. 1. Jari kelingking. (Zaman Adam) Mengapa saya simpulkan bahwa jari kelingking adalah zaman Adam? Kita harus pahami bahwa bahasa Alquran dibaca dengan cara dimulai dari kanan ke kiri. Dan nama Allah yang tercetak di jari kita pun, huruf Alif nya adalah jari kelingking. Dari itulah saya simbolkan bahwa Jari Kelingking adalah zaman Adam. Karena memang Adam lah Manusia Pertama. 2. Jari Manis. (Zaman Idris) Lihatlah gambar dibawah. Mengapa setelah Kelingking, terdapat Jari Manis yang ukurannya lebih tinggi dari Jari Kelingking itu? Itu mengartikan bahwa kehidupan yang di jalani oleh masyarakat manusia di zaman Idris sungguh memiliki peradaban yang lebih tinggi di banding ketika zaman Adam. Alias semakin berkembang. Tidak heran juga mengapa sosok Budha yang tergambar duduk di tengah BUNGA TERATAI adalah melambangkan bahwa TERNYATA masyarakat manusia pada zaman itu sudah mampu melakukan perjalanan
sampai ke Planet terujung, yakni planet Sidratul Muntaha.
(TERATAI tempat berhenti). Dan Budha adalah orang yang memang di duga sosok Nabi Idris. Dan beliau sendiri menjadi simbol Miraj bagi kaumnya pada zaman itu. Surat 50/36 : "Dan berapa banyaknya umat-
umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah binasa itu) telah pernah menjelajah di berbagai negeri..." Lebih lanjut, berbagai penemuan puluhan benda kuno namun canggih yang oleh ilmuwan disebut sebagai bukti kehebatan dari cerdasnya masyarakat zaman dahulu itu secara tidak langsung menggenapi analisa ini. 3. Jari Tengah (Zaman Nuh). Mengapa Jari Tengah ukurannya lebih tinggi dari 2 jari sebelumnya, Jari Manis dan Jari Kelingking? Itu menandakan bahwa kehidupan masyarakat manusia di zaman Nuh adalah zaman Puncak peradaban. Di mana segala sendi kehidupan manusia pada zaman itu telah sampai pada titik tertingginya. Namun sungguh teramat sayang ketika kemajuan peradaban tidak membawa pada arah ketakwaan, akhirnya Allah menghukum mereka - masyarakat Zaman Nuh- dengan mengirimkan bencana Banjir Dahsyat. Dari situlah akhirnya orang-orang kafir dibinasakan sementara manusia yang selamat (Nuh beserta umatnya) berkembang biak kembali dan
peradaban pun di mulai dari titik 0 lagi. Dan Jari Tengah (Zaman Nuh) pun akhirnya menjadi BATAS TOLAK UKUR antara 2 episode perjalanan kehidupan manusia. Umat sebelum Zaman
Nuh dan Umat sesudah Zaman Nuh. 4. Jari Telunjuk (Zaman Ibrahim). Mengapa Jari Telunjuk ukurannya malah menjadi lebih rendah (turun) dibanding
Jari tengah? "Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan Nuh" Kelebihan Zaman Ibrahim adalah Allah menjadikan sosok nabi Ibrahim ini sebagai "Bapaknya" para nabi. Dari sini beliau dijadikan figur ajaran Tauhid bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Sebab beliau merupakan orang Paling Pemberani yang pernah ada dalam menyebarkan ajaran paham satu Tuhan. Dari sebab itulah kenapa Telunjuk saya simbolkan dengan zaman Ibrahim, karena Jari Telunjuk memang merupakan simbol untuk penyebutan angka 1. Surat 6/161 : "Katakanlah : "sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus....." Kembali ke pertanyaan mengapa ukuran Jari Telunjuk malah lebih rendah dari Jari tengah, itu sangat jelas mensinyalkan bahwa apa yang ada pada zaman nabi Ibrahim (mulai dari ukuran tubuh manusia, ukuran kepintaran manusia, ukuran kemakmuran manusia) semuanya menjadi menyusut di perkecil oleh Allah dibanding dengan kala manusia pada waktu sebelum zaman nabi Nuh. Dan yang paling sangat tampak adalah ukuran tubuh manusia yang dari masa ke masa terus mengalami penurunan. Hingga akhirnya perjalanan waktu tersebut berlaku dari zaman ke zaman menuju sampai pada zaman Muhammad (Jari Jempol). Zaman sisa-sisa. 5. Jari Jempol (Zaman Muhammad). Surat 16/123 : "Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) : "Ikutilah agama Ibrahim..." Surat 36/2-4 : "Demi Alquran yang penuh hikmah" "Sesungguhnya engkau (Muhammad) salah seorang rasul-rasul" "Di atas jalan yang lurus". Jari Jempol (Zaman Muhammad) adalah jari yang paling pendek dari ke empat jari sebelumnya. Mengisyaratkan bahwa apa yang ada pada zaman ini merupakan zaman sisa-sisa kehidupan. Segala keberhasilan kita dalam bidang teknologi yang kita banggakan, tetap tidak akan pernah sanggup untuk melampaui apa yang pernah di
capai oleh umat sebelumnya. Dari itulah Alquran sering kali menegaskan jika umat sebelum kita yang segala sesuatunya lebih tinggi (lebih hebat) saja mampu dibinasakan, apalagi zaman kita !!! Zaman pengulangan !!! Surat 56/62 : "Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran?" Namun disamping itu semua janganlah berkecil hati, sebab di balik rendahnya "derajat" zaman ini (zaman penghabisan) Allah tetap Maha
Penyayang terhadap mahluk bernama manusia. Lihatlah betapa akhirnya Dia menurunkan Alquran melalui Muhammad sebagai kitab Ummul Ilmu (Ibu Ilmu). Sejalan dengan istilah pada Jari
Jempol itu (Ibu Jari). "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Alquran) kepada hambaNya, agar dia menjadi peringatan bagi seluruh alam." (QS. Al Furqaan : 1)

Minggu, 27 Februari 2011

Agama, Kodrat Tuhan,dan Manusia MenurutRaden Adjeng Kartini


SUHARTOYO Mahasiswa Fakultas Filsafat
UNIKA Widya Mandala,
Surabaya Tulisan ini ada di dalam buku
Membongkar Rahasia Manusia,
Reza A.A Wattimena (ed),
Kanisius, Yogyakarta, 2010. Kehidupan umat beragama
selalu pasang surut. Raden
Adjeng Kartini hidup di
tengah agama yang legalistik.
Agama pada waktu itu
dijadikan sebagai pembenaran akan perbuatan-perbuatan
yang menyiksa hak-hak
manusia. Agama yang dianut
oleh Kartini adalah agama
Islam. Ia menganut agama
tanpa pernah mengenal agamanya. Selain itu ia
terkena konsekuensi praktis
agama orang tuanya, yakni
keluarganya beragama Islam.
Ia pun beragama Islam. Tanpa
mengerti kejelasan arti agama, ia telah menjumpai
bagaimana ajaran agama
dimanfaatkan untuk
menyiksa perempuan.
Akhirnya ia
mempertanyakan segala sesuatu soal agama. [1] Kartini sangat menolak agama
pada masanya. Agama yang
menyiksa kehidupan manusia,
terlebih para perempuan.
Maka ia tidak setuju dengan
keberadaan agama. Kedua, ia melihat adanya perbedaan
penyebutan Tuhan saja
melahirkan konflik tersendiri. [2] Akhirnya Kartini memiliki konsep tentang agama dan
Tuhan sendiri. Agama yang
menyatukan semua lapisan
dan Tuhan yang satu demi
menghindari pertengkaran
akibat perbedaan agama. [3] Tujuan penulisan ini untuk
memaparkan konsep agama
menurut perspektif Kartini
dengan sebuah pertanyaan,
apa itu agama dalam
perspektif Kartini? Metode yang saya gunakan adalah
analisis teks: kumpulan-
kumpulan Surat Kartini dari
buku yang berjudul Habis
Gelap Terbitlah Terang, dari
Armijn Pane. Kemudian dalam penulisan saya akan
membaginya ke dalam
beberapa bagian 1) Agama
dalam Perspektif Kartini, 2)
Kodrat Manusia dan Tuhan, 3)
Refleksi Atas Agama, Kodrat Tuhan, dan Manusia dalam
Perspektif Kartini, 4)
Kesimpulan, 5) Tanggapan
Kritis, dan 6) Relevansi Agama
dalam Perspektif Kartini Bagi
Kehidupan Beragama di Indonesia. 1.Agama dalam Perspektif
Kartini. Pada bab ini saya akan
memperkenalkan apa itu
agama menurut perspektif
Kartini. Pemikiran tersebut
terdapat di dalam surat-
suratnya yang dilatarbelakangi hadirnya
agama pada zamannya. Dalam
suratnya ke Nona
Zeehandelaary, 6 November
1899, Kartini menyatakan
bahwa dirinya adalah beragama Islam, namun tidak
mengenalnya, “Manakah boleh aku cinta akan
agamaku, kalau aku tiada
kenal, tiada boleh aku
mengenalnya ?” demikian “… lagi pula, sebenarnya
agamaku agama Islam, hanya
karena nenek moyangku
beragama Islam.”[4] Pada zaman Kartini, Agama
Islam dimanfaatkan untuk
mendukung kekerasan yang
dilakukan oleh laki-laki
kepada perempuan. [5] Perempuan dipandang sebagai
nomor dua. Menurut Kartini
tujuan “Allah menjadikan perempuan akan jadi teman
laki-laki, dan tujuan hidupnya
ialah bersuami…dengan laki- laki dengan damai dan
selaras.”[6] Baginya, perkawinan memiliki nilai
luhur, dan bukan sebagai
sarana penyiksaan perempuan
dan pemenuhan nafsu laki-
laki. [7] Sayangnya ajaran agama dimanipulasi untuk
mendukung tindak kekerasan
tersebut. Akibatnya, Kartini
mempertanyakan keberadaan
agama. Keberadaannya yang
menyebabkan penderitaaan
maupun perselisihan. Lalu
munculah pertanyaan, apakah sebaiknya tidak ada agama?
“Benarkah agama itu restu bagi manusia?” [8] Kartini melihat bahwa, “Ya Tuhanku, ada katanya aku berharap, alangkah
baiknya jika tidak agama itu,
karena agama itu, yang
sebenarnya harus
mempersatukan semua
hamba Allah, sejak dahulu- dahulu menjadi pangkal
peselisihan dan perpecahan,
jadi sebab perkelahian
berbunuh-bunuhan yang
sangat ngeri dan bengisnya.
Orang yang seibu-sebapak berlawanan, karena berlainan
cara mengabdi kepada Tuhan
yang esa itu. Orang berkasih-
kasihan dengan amat
sangatnya, dengan amat
sedihnya bercerai-cerai. Karena berlainan tempat
menyeru Tuhan, Tuhan yang
itu juga, terdirilah tembok
membatasi hati yang
berkasih-kasihan. ”[9] Menurut Kartini, “Agama itu menurunkan rahmat kepada
manusia supaya ada
penghubung silaturahim
segala mahkluk Allah. ”[10] Ia meyakini bahwa semua orang
adalah satu saudara.
Persaudaraan bukan
merupakan sekedar kesatuan
relasi biologis, namun kita
adalah mahkluk yang “se- bapak” atau Satu Tuhan Yang Esa.[11] Relasi kesatuan di dalam
agama menunjukkan bahwa
kita adalah satu. Adanya
kesatuan relasi tersebut
menunjukkan relasi kesatuan
yang sangat mendalam dan melampui fisik di antara
manusia. Maka, agama
dimengerti dan diyakini
sebagai pemberi, “… berkah, supaya memperkaribkan semua
mahluk Allah, yang berkulit
putih maupun yang berkulit
hitam, tiada pandang pangkat
perempuan ataupun laki-laki
agama mana yang diperlukan, semuannya kita ini ialah anak
kepada Bapak yang seorang
itu juga, kepada Tuhan yang
Esa.”[12] Kutipan surat kepada Nyonya
van Kol, 21 Juli 1902
mengatakan, bahwa agama
adalah penyatu relasi personal
manusia sebagai satu-
kesatuan, maupun segala mahkluk. Perwujudan
kesatuan tersebut adalah
perbuatan baik, karena agama
itu baik adanya. Maka jika ada
kejelekan pada agama, bukan
agamanya memiliki kejelekan, melainkan
perbuatan manusia yang
menyebabkan kejelekan
terhadap agama. [13] “manusialah yang berbuat hal yang buruk-buruk itu
memakai nama Allah
menyembunyikan
maksudnya yang jahat-jahat.
Kami tiadalah tahu dahulu,
bahwa mulanya (agama) semuanya bagus, tetapi
manusia itu memperburuk
bagus ini (agama yang baik) … dahulu dan sekarang pun
tetap juga tiada bertanya:
apakah agama tuan?
Melainkan: betapa tingkah
laku tuan? Kebaikan, itulah
Tuhan kami yang dahulu, yang senantiasa kami coba
melakukan perintahnya;
sekarang itu tahulah kami
kebaikan itu dan Tuhan satu
adanya. ” [14] Agama dijadikan topeng
untuk berbuat kejahatan.
Bukan agama yang menjadi
titik pengrusakan, melainkan
perbuatan manusia yang
mencari pendasaran pada agama atas kejahatannya. “Itulah sebabnya kami lama membelakangi agama dengan
sungguh-sungguh, karena
banyak kami lihat orang
memakai topeng agama
berkelakuan yang tidak
menaruh kasihan. Lambat laun barulah kami tahu, bukanlah
agama itu yang tiada menaruh
kasihan, melainkan manusia
jugalah yang memperburuk
segala sesuatu yang
semulanya bagus suci itu. ”[15] Untuk itu, agama tidak dapat
dipersalahkan. Pemeluknyalah
yang patut dikaji dalam
tindakannya. Dalam suratnya kepada Tuan
E.C. Abendanon, 31 Januari
1903, Kartini menganjurkan
dengan sangat, agar agama
diajarkan pada penduduk.
Akan tetapi agama yang diajarkan tidak sama dengan
agama yang telah ada pada
masa itu. Sebagaimana yang
dimaksud Kartini dalam
suratnya: “Jika orang hendak mengajarkan agama juga
kepada orang Jawa, ajarlah ia
mengenal Tuhan Yang esa,
Bapak penyayang dan
pengasih itu, yang jadi Bapak
semua mahkluk, orang Kristen, maupun dia orang
Islam, Buddha, Yahudi dan
Sebagainya. Ajarlah dia agama
sebenarnya, ialah agama yang
melekat di rohani biarpun ia
memeluk agama orang islam dan sebagainya ”[16] Maka, dalam perspektif
Kartini, agama adalah sebagai
penyatu relasi antar manusia,
atau ekspresi kesatuan
manusia. Kesatuan agama itu
baik adanya, karena agama itu baik adanya. Jika ada
agama yang tidak baik, bukan
agamanya yang bersalah,
melainkan manusianyalah
yang bertindak dalam setiap
perbuatan jahatnya yang berkedok agama. Akibatnya
citra agama menjadi rusak
atau buruk. 2.Kodrat Tuhan dan
Manusia Dalam surat-suratnya Kartini
menyatakan ada dua kodrat,
yakni kodrat Tuhan dan
manusia. Kedua kodrat
tersebut berbeda, namun
memiliki kesatuan. Kodrat Tuhan dan manusia dapat
menyatu, ketika manusia
memiliki titik kesadaran
bahwa Tuhan ada di dalam
jiwa manusia. Tuhan memiliki kodrat yang
lebih tinggi, kuasa, dan kuat. [17] Dia adalah yang esa. Ia mengatur kehidupan alam
semesta dan membantu
manusia sebagai teman dalam
perjalanan hidupnya. [18] Ia berhak memutuskan segala
sesuatu. Manusia hanya
mampu menimbang.[19] Tuhan digambarkan oleh
Kartini sebagai seorang bapak
yang memiliki. Hal ini
diungkapkan Kartini pada
Nyonya Abendanon, 12
Desember 1902, ketika ia hendak memberi penghiburan
kepadanya, “Serahkanlah kami kepada Tuhan yang Esa, kepada bapak
yang Penyayang Pengasih itu!
Dia akan menolong,
membantu, melipur dan
menerangi jalan kami …Dia mengenal kami, dan Dia
menunjukkan kami dengan
kasih sayang …”[20] Kartini menaruh keyakinan
bahwa Tuhan telah
melindungi, membantu,
menjaga, dan selalu dekat
serta memberi penghiburan
kepada manusia. [21] Tuhan memberikan kewajiban dan
pekerjaan sesuai dengan
kemampuan manusia, karena
Tuhan sangat mengerti
manusia.[22] Begitu luhur kodrat Tuhan,
sebagaimana yang dipikirkan
oleh Kartini dalam suratnya.
Bagaimana dengan kodrat
manusia, karena keberadaan
Tuhan memiliki hubungan dengan manusia dan segala
mahkluk? Kodrat manusia adalah
kemauan (=kehendak).
Kehendak tersebut bukan
merupakan keangkuhan dan
kekerasan, namun kehendak
“… bertuankah dia: Kesucian !”[23] Adanya kehendak ini mengarahkan
manusia pada jalan Tuhan.
“Jalan kepada Allah dan jalan kepada padang kemerdekaan
hayalah satu. Siapa yang
sesungguhnya jadi hamba
Allah, sekali-kali tiada terikat
kepada seseorang manusia,
sebenar-benarnya merdekalah dia.” [24] Kebebasan adalah jalan yang
dilewati oleh manusia untuk
sampai pada Tuhan. Manusia
berkeyakinan dan
mengarahkan pandangan
kepadaNya. Tuhan sendiri yang akan membimbingnya
dengan cinta “… lihatlah, gelap menjadi terang, angin ribut
menjadi angin sepoi-
sepoi.”[25] Dengan cintanya pula, manusia
akan mengalami perubahan.
Yang berubah adalah diri
manusia yang disinari dengan
cinta dan cahayaNya. Semua
yang ada di dalam diri manusia disinari dengan
cahaya cinta kasihNya.
“Alangkah tenang dan damainya di dalam rohani
kami. ”[26] Pertanyaannya, bagaimana dengan
implementasinya dalam hidup
manusia? “Dia (Tuhan) akan menunjukkan …kasih sayangnnya. Bila kami hendak
berbuat baik, maka dia pun
akan membantu kami; bila
kami hendak berbuat jahat
kami pun tak akan lepas dari
hukuman. Kepercayaan itulah yang menantang kami dan
mengamankan dan
mendamaikan hati kami. ”[27] Kutipan di atas menyatakan,
bahwa bukti nyata cinta
Tuhan yang menyinari
manusia ialah membantunya
dalam bersikap. Manusia dapat
bersikap mana yang baik dan buruk. Ketika manusia
berbuat salah, maka ia akan
mendapat hukuman. Jika
manusia berbuat baik, maka ia
akan didukung. Hal ini yang
disebut sebagai cinta kasih. Cinta kasih yang dimaksud
adalah bimbingan Tuhan
dalam hidup manusia atas apa
yang baik dan buruk. Cinta itu
mahakuasa. [28] Implemetasinya, ia akan
menolong dan membantu
orang lain. “… kami sanggup menolong diri kami sendiri. menolong
diri sendiri itu kerap kali sukar
daripada menolong orang lain.
Dan siapa yang sanggup
menolong dirinya sendiri,
akan sanggup menolong orang lain dengan lebih
sempurna.”[29] Kehendak bebas
mengarahkan manusia pada
Tuhan. Dengan bantuan cinta
kasihNya, manusia mengerti
baik dan buruknya suatu
tindakan. Cinta kasihNya selalu mendorong manusia
pada tindakan baik, yakni
menolong diri dan orang lain. Kodrat manusia senantiasa
mengarah pada kodrat Tuhan
dengan bantuan CintaNya. Hal
ini menunjukkan adanya
hubungan antara manusia dan
Tuhan. Dengan adanya hubungan tersebut, manusia
merasakan kedekatan,
keamanan, dan perlindungan
di dalam kehidupan.
Bagaimana hal ini dapat terjadi
di dalam diri Kartini? Surat Kepada Tuang E. C.
Abendanon, 15 Agustus 1902
menjawabi pertanyaan
tersebut. Hal ini terjadi di
dalam diri Kartini, karena ia
melakukan sebuah askese. Askese adalah latihan untuk
menahan keinginan Tubuh
demi nilai tertentu. [30] Askese Kartini adalah berpuasa,
menyepi, dan berjaga-jaga,
atau dalam keadaan siap,
secara pikiran dan tubuh. Bagi
Kartini di dalam askese, orang
akan mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Kedua hal
tersebut disebut pengalaman
“kegelapan ”. Dalam kegelapan inilah, manusia memerlukan
cahaya. [31] Barulah, cahaya itu pun datang dan berada.
Baginya, “Mustahil cahaya akan datang, bila tiada
didahului oleh gelap; bagus,
bagus, buka ?” [32] Dalam beraskese Kartini
mendapatkan permenungan
yang sangat hebat, yakni
“habis malam datanglah siang, habis topan datanglah reda,
habis perang datanglah
menang, habis duka datanglah
suka. ” [33] Temuan ini berasal dari askese Kartini yang tidak
hanya melatih tubuhnya.
Kartini meyakini askese juga
adalah usaha belajar berpikir,
pandai menahan nafsu lapar,
dan menyepikan diri (meditasi). [34] Dapat kita ketahui, askese
Kartini adalah pelatihan tubuh
dan pengembangan pikiran.
Secara khusus, askese Kartini
adalah pengolahan pikiran
manusia untuk terarah pada kodrat Tuhan. Maka, askese ini
menghantar Kartini pada
perjumpaan dan
penemuannya dengan Tuhan
secara mendalam. Baginya,
Tuhan bukan merupakan sekedar seruan. Tuhan hadir di
dalam kehidupan dan
membawa perubahan pada
jiwa Kartini. Tuhan sangat
dekat dengan kehidupan
manusia.[35] Askese merupakan usaha
berpikir. Usaha ini menghantar
pada perjumpaan dan
kesatuan Kartini dengan
Tuhan, sehingga ia
menemukan: “Tuhan kami ialah hati sanubari kami, neraka dan
surga kami ialah sanubari
kami. Bila kami berbuat salah,
sanubari menghukum kami,
bila kami berbuat baik, maka
sanubari kami memberkati kami …sangat berbahagia melihat hati sanubari kami itu
berubah…sangguplah aku kiranya dengan sebenar-
benarnya mengatakan aman
sentosanya, di dalam diri kami
sekarang, betapa terima kasih
dan bahagianya..sekarang
mendapat Dia; karena kini kami tahu, kami rasa, bahwa
senantiasa ada tuhan dekat
kami …”[36] Kutipan surat di atas
menunjukkan betapa
kematangan kartini dalam
beragama. Ia membangun
relasi mendalam secara
personal dengan Tuhan. Dengan segenap pikirannya, ia
telah mencapai titik
pencerahan dan terang akan
keberadaan Tuhan dalam
hidupnya. Keberadaan Tuhan
yang hidup dan mendiami sanubari atau batinnya. Dari
keyakinan ini, ia telah sampai
pada penemuan, dan telah
diungkapkan bahwa Tuhan
adalah sanubarinya. [37] Maka, kodrat Tuhan dan
Manusia merupakan hakikat
yang satu. Kodrat Tuhan
adalah sesuatu yang tinggi.
Kodrat manusia adalah
kehendak bebas yang mengarah pada Kodrat Tuhan
dengan bantuan Cinta Tuhan.
Askese adalah cara untuk
mencapai kodrat Tuhan.
Askese menurut Kartini tidak
hanya pelatihan tubuh, melainkan olah kesadaran
pikiran kepada Tuhan,
sehingga mengalami
kehadiran Tuhan di dalam diri
batin manusia. 3.Refleksi Lebih Jauh Kartini memiliki pandangan
agama yang berbeda pada
zamannya. Agama dalam
pandangan Kartini diyakini
tidak lagi secara institusional. [38] Ia hendak melepaskan diri dari kungkungan
kelembagaan agama. Ia
menghasilkan pemikiran
tentang agama secara mandiri. Kartini tidak
mempermasalahkan akan soal
ritual yang bersifat formal. Ia
telah menyentuh inti
kehidupan agama, tentang
realitas tertinggi, kodrat yang tertinggi dan berkuasa.
Realitas tertinggi di dalam
suratnya disebut sebagai
“Bapak” yang bertahta di atas langit. [39] Maka agama merupakan tempat kehadiran
penuh realitas tertinggi
tersebut. Kehadiran agama sebagai
realitas tertinggi
menunjukkan bahwa agama
sebagai wadah ekspresi Tuhan
secara aktual. Di dalam agama
juga, manusia menemukan Tuhan sebagaimana dipahami
atas ajaran atau keyakinan
agama tersebut. Kartini mengambarkannya
sebagai “Bapak” sebagai sebutan bagi Tuhan yang satu,
karena ia merupakan seorang
penganut monoteisme. [40] Bapak dalam pandangan
Kartini memiliki maksud yang
mendalam, selain ia sangat
mencintai bapaknya sendiri.
Penggunaan kata “Bapak” ini menunjukkan adanya
kedekatan antara Tuhan dan
kartini (sebagai manusia).
Atau adanya relasi personal
yang mendalam yang bersifat
komunikatif. [41] Manusia memposisikan dirinya sebagai
anak. [42] Kodrat Tuhan dan Manusia
telah menunjukkan
kedalaman kartini sebagai
umat beragama. [43] Buktinya kodrat Tuhan yang tinggi dan
melampui kodrat manusia
telah dijembatani, agar dapat
terhubung untuk berelasi. [44] Manusia dapat mencapainya
dengan usaha diri dan bantuan
Tuhan itu sendiri. Usaha
manusia adalah adanya
kehendak bebas. Kehendak
bebas yang diarahkan pada Tuhan, yang diwujudkan pada
perbuatan baik. Usaha
selanjutnya adalah askese
dalam bentuk pengolahan
pikiran, yakni mengatur nafsu
dan keinginan tubuh yang berlebihan. Askese dilakukan
dengan bermatiraga, seperti
puasa, menyepi (meditasi),
dan kesiapsediaan. [45] Manusia mencapai kodrat
Tuhan dengan menyandarkan
pada bantuan Tuhan sendiri.
Tuhan akan memberikan
cahaya cintanya dalam hidup
manusia. [46] Perwujudan cinta tersebut juga harus
dilakukan secara konkret oleh
manusia dalam bentuk
perbuatan baik kepada
sesama. Ia menolong orang,
terlebih yang membutuhkan. Manusia memiliki relasi
personal yang mendalam
antara manusia dan Tuhan.
Relasi ini menyatukan dua
kodrat, sehingga melahirkan
kesatuan kodrat manusiawi dan Tuhan. Sebagaimana yang
dikatakan Kartini, “Tuhan adalah sanubari kami …”[47] Maka, dalam keyakinan
Kartini, Tuhan ada di dalam
diri manusia. Kehadirannya
menjadi penentu sebagai
hakim atas sikap manusia,
baik dan buruk. Ini adalah soal batin. Maka Tuhan adalah
batin manusia, karena
kehadirannya melalui rahmat
cintanya ke dalam batin
manusia sebagai penentu baik
dan buruk. Oleh karena itu, agama
menjadi sarana perjumpaan
aktual Tuhan dan manusia.
Agama menjadi sangat
penting. Manusia
mengarahkan kehendak bebasnya dengan bantuan
cintanya pada Tuhan. Jalan
yang perlu ditempuh adalah
jalan askese. 4.Kesimpulan Saya akan menarik
kesimpulan dari ulasan-ulasan
di atas. Agama dalam
perspektif kartini adalah
wadah ekspresi atau penyatu
kesatuan relasi antar manusia. Esensi atau inti dari agama
adalah adanya zat tertinggi,
yakni “Bapak” sebagai kodrat Tuhan. Dalam pandangan
Kartini, kodrat Tuhan dan
kodrat manusia merupakan
satu kesatuan, karena
kehendak bebas manusia
mengarahkan batinnya pada Tuhan. Dengan begitu,
manusia pun mengalami
kehadiran kesatuan dengan
Tuhan di dalam sanubarinya.
Agama memberikan tempat
bagi ekspresi kodrat Tuhan dan Manusia. Kartini berpendapat agama
adalah relasi personal antar
manusia. Relasi ini mengajak
dan mengandaikan, bahwa
semua agama memiliki
kesamaan pengertian tentang Tuhan maupun ajaranNya.
Kaca mata ini dinamakan
agama pluralisme. Saya tidak
setuju dengan pemikiran
Kartini tentang agama adalah
agama pluralisme. Agama dipandang sebagai satu
kesatuan. Ketika agama
dipandang sama, berarti
Kartini tidak menghargai
bentuk dan masing-masing
keunikan setiap agama- agama. Kartini akan
meniadakan ekspresi yang
dimilliki setiap agama. Dengan
begitu, kalau kita
menggunakan kaca mata
Kartini, kebebasan beragama akan terancam. Manusia tidak
akan memiliki kebebasan
agama. Kita tidak akan pernah
menghargai bentuk dan
model penghayatan masing-
masing agama. Bangsa Indonesia adalah
bangsa yang memiliki banyak
agama. Keberagaman
beragama menunjukkan
bahwa setiap warga
masyarakat memiliki kebebasan untuk beragama.
Jadi, Kebebasan beragama pun
sangat dijamin di Indonesia.
Setiap orang berhak memilih
atau memeluk agama yang
diyakininya. Kekayaan agama dengan beragamnya agama
membuat kita bangga dan
takjub. Akan tetapi, kita tidak bisa
menutup mata. Banyaknya
agama menyebabkan rawan
terjadinya konflik, karena
banyak perbedaan pandangan
dan keyakinan soal agama. Dalam konflik ini tak jarang
kelompok mayoritas akan
selalu menjadi pemenang.
Minoritas selalu tersisih atas
dasar sesat dan sebagainya.
Seolah-olah siapa yang kuat itulah yang benar. Hukum
rimbalah yang berlaku. Tak
jarang terjadi pengrusakan
dan penyegelan tampat
ibadah. Warga melarang
pendirian wihara di Lampung. Alasannya, lingkungan
setempat adalah beragama
Islam, dan orang yang
memeluk adat istiadat asli. [48] Mungkin masih hangat di
ingatan tentang kasus di
Ambon, di mana terjadi
konflik berkepanjangan antar
pemeluk Islam dan Nasrani. Pemikiran Kartini sangat
relevan, yakni soal kedalaman
beragama. Agama dipandang
sebagai penyatu relasi
personal semua manusia.
Agama bertujuan baik. Yang menjadikan tidak baik adalah
tindakan manusia yang jahat
mengatasnamakan agama dan
Tuhan. Dengan kaca mata pemikiran
Kartini, agama malah menjadi
pemisah antar manusia. Tidak
hanya itu, konflik dan saling
membunuh telah terjadi.
Kalau begitu, apakah keberadaan agama tidak
menjadi rahmat atau penyatu
relasi personal semua umat
manusia? Kemudian, apakah
agama mengajarkan manusia
untuk menghancurkan kehidupan manusia sebagai
sesamanya? Bukankah, agama
itu baik adanya? Tampak jelas, bahwa tindakan
manusia yang menodai
kebaikan agama. Agama yang
sebelumnya menjadi sumber
perjumpaan dan mengalirnya
kebaikan telah berubah, akibat tindakan manusia yang
merusak dengan bertopeng
agama. Sebagai umat beragama,
dalam pandang Kartini,
hendaklah kita mambangun
relasi yang mendalam dengan
Tuhan. Relasi ini dibangun
melalui askese dan bantuan cinta Tuhan, sehingga kita
memiliki kedekatan.
Kedekatan dengan Tuhan
akan merubah diri manusia.
Manusia akan mengalami
kehadiran Tuhan di dalam sanubari atau batinnya.
Manusia jadi mampu untuk
menilai baik dan buruk
tindakannya. Agama menjadi
sumber rahmat dan kebaikan. Daftar Pustaka Fernandez, Stephanus Ozias,
1990, Citra Manusia Budaya
Timur dan Barat, Ende- Flores: Nusa Indah. Hardjana, A M, 1993,
Penghayatan Agama: Yang
Otentik & Tidak Otentik, Yogyakarta: Kanisius. Pane, Aemijn, 1997, Habis
Gelap Terbitlah Terang
(terjemahan), Jakarta: Balai Pustaka Tama. Wattimena, Reza A.A, 2009,
Filsafat Manusia Menjadi
Manusia Otentik, Surabaya: (Promanuscripto) Universitas
Widya Mandala.

Sabtu, 26 Februari 2011

Status Ayah dan Ibu Rasulullah, Muslim atau Kafir?


Status Ayah dan Ibu Rasulullah, Muslim atau Kafir? Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Beberapa hari lalu ada seorang kawan yang ikut satu jama’ah dakwah mendatangi saya. Dia membawakan keterangan bahwa Ayah dan Ibu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah muslim. Bahkan ia mengatakan, orang yang meyakini keduanya meninggal sebagai musyrik dan kafir terancam akidahnya, dia bisa kafir. Mohon penjelasan tentang status kedua orang tua Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?
Pak Yono – Bekasi Utara ________________
Wa’alaikumus Salam Wr. Wb. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Kedua orang tua Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bernama Abdullah dan Aminah. Keduanya meninggal sebagai musyrik sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dilarang memintakan ampun dan memohonkan rahmat untuk keduanya. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang yang ada di sekitar beliau-pun ikut menangis. Karenanya beliau bersabda, “Aku telah meminta izin kepada Rabb-ku untuk saya beristighfar (memintakan ampun) baginya, namun Dia tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia mengizinkan untukku. Karenanya, lakukan ziarah kubur, sebab hal itu bisa mengingatkan kepada kematian. ” Dalam riwayat lain yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa kisah ini menjadi sebab
turunnya firman Allah, ﺎَﻣ َﻥﺎَﻛ ِّﻲِﺒَّﻨﻠِﻟ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ ﺍﻮُﻨَﻣَﺁ ْﻥَﺃ
ﺍﻭُﺮِﻔْﻐَﺘْﺴَﻳ َﻦﻴِﻛِﺮْﺸُﻤْﻠِﻟ ْﻮَﻟَﻭ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ﻲِﻟﻭُﺃ ﻰَﺑْﺮُﻗ ْﻦِﻣ ِﺪْﻌَﺑ ﺎَﻣ َﻦَّﻴَﺒَﺗ ْﻢُﻬَﻟ ْﻢُﻬَّﻧَﺃ ُﺏﺎَﺤْﺻَﺃ ِﻢﻴِﺤَﺠْﻟﺍ “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang- orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al- Taubah: 113) dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengutarakan bahwa kesedihan ini merupakan naluri sayang seorang anak terhadap orang tuanya. (Lihat:
Al-Hakim dalam Mustadrak: 2/336 beliau mengatakan, “Shahih sesuai syarat keduanya –Bukhari dan Muslim-; Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah: 1/189) Dan terdapat tambahan keterangan dalam al-Mu’jam al-Kabir milik al-Thabrani rahimahullaah, bahwa Jibril 'alaihis salam berkata kepada beliau, َﺃَّﺮَﺒَﺘَﻓ َﺖْﻧَﺃ ْﻦِﻣ َﻚِّﻣُﺃ ، ﺎَﻤَﻛ َﺃَّﺮَﺒَﺗ ُﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ ْﻦِﻣ ِﻪﻴِﺑَﺃ “Berlepas dirilah engkau dari ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari bapaknya. ” (Lihat juga Tafsir Ibni Katsir dalam menafsirkan QS. Al-Taubah: 113-114)
Maka sangat jelas status Aminah (ibunda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), meninggal di luar Islam dan berada di neraka. Maka sangat jelas status
Aminah (ibunda Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam),
meninggal di luar Islam dan
berada di neraka. Sedangkan riwayat yang menunjukkan bahwa ayah beliau (Abdullah) meninggal sebagai musyrik dan berada di neraka adalah hadits yang diriwayatakan Muslim dari Anas: Ada seseorang bertanya
kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Di manakah bapakku ?” Beliau menjawab, “Di neraka. ” Maka ketika ia berbalik, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanggilnya dan bersabda: َّﻥِﺇ ﻲِﺑَﺃ َﻙﺎَﺑَﺃَﻭ ﻲِﻓ
ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka. ” Hadits ini menunjukkan bahwa ayah beliau meninggal sebagai orang kafir. Dan siapa yang meninggal di atas kekafiran maka dia di neraka, hubungan kekerabatan tidak berguna dan tidak bisa menyelamatkannya. (Lihat: Syarah Shahih Muslim, Imam al-Nawawi: no. 302) Maka hadits-hadits yang shahih di atas sangat jelas menyebutkan bahwa kedua orang tua Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meninggal sebagai musyrik dan kafir, keduanya berada di neraka. Kenabian dan kerasulan beliau tidak bisa menyelamatkan keduanya dari neraka sehingga dilarang memintakan ampun untuk keduanya. Karena itu kita wajib meyakini kabar-kabar yang berasal dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini dan membenarkannya. Adapun hujah-hujah yang dijadikan sandaran orang yang berpendapat keduanya adalah mukmin dan meninggal di atas Islam sehingga mereka berada di surga adalah hujah yang lemah yang bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang telah disebutkan di atas. . . hujah-hujah yang dijadikan
sandaran keduanya adalah
mukmin dan meninggal di
atas Islam sehingga mereka
berada di surga adalah hujah
yang lemah yang bertentangan dengan hadits-
hadits shahih Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya telah menyebutkan beberapa hadits yang mereka jadikan sandaran, namun beliau menyatakan hadits tersebut sebagai hadits gharib/asing dan konteksnya sangat aneh. Dan hadits yang paling aneh dan munkar adalah apa yang diriwayatkan
al-Khatib al-Baghdadi dalam al-
Saabiq wa al-Laahiq dengan sanad yang majhul, dari ‘Aisyah dalam sebuah kisah bahwa Allah telah menghidupkan ibunya, lalu ia beriman kemudian kembali meninggal. (Ditinjau dari sanadnya, hadits ini dhaif sehingga tidak bisa dijadikan sandaran keyakinan. Ditambah lagi dia bertentangan dengan hadits Muslim yang shahih di atas) Keterangan serupa juga diriwayatkan al-Suhaili dalam al-Raudh, dengan sanad yang di dalamnya terdapat sekumpulan perawi yang majhul (tidak dikenal): “Bahwa Allah telah menghidupkan kembali bapak
dan ibunya, lalu keduanya beriman.” Al-Hafidz Ibnu Dahiyyah mengatakan, “Hadits ini adalah maudhu’ (palsu), Al- Qur’an dan sunnah telah membantahnya. ” Lalu beliau menyebutkan firman Allah Ta’ala, ِﺖَﺴْﻴَﻟَﻭ ُﺔَﺑْﻮَّﺘﻟﺍ َﻦﻳِﺬَّﻠِﻟ َﻥﻮُﻠَﻤْﻌَﻳ ِﺕﺎَﺌِّﻴَّﺴﻟﺍ ﻰَّﺘَﺣ ﺍَﺫِﺇ َﺮَﻀَﺣ ُﻢُﻫَﺪَﺣَﺃ ُﺕْﻮَﻤْﻟﺍ َﻝﺎَﻗ ﻲِّﻧِﺇ ُﺖْﺒُﺗ َﻥَﺂْﻟﺍ ﺎَﻟَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ َﻥﻮُﺗﻮُﻤَﻳ ْﻢُﻫَﻭ ٌﺭﺎَّﻔُﻛ “Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang- orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertobat sekarang" Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. ” (QS. Al- Nisa’: 18) Imam al-Qurthubi mengingkari kesimpulan Ibnu Dahiyah di atas, bahwa secara syar ’i dan ‘aqli memungkinkan Allah untuk menghidupkan lagi keduanya. Beliau berpendapat, kehidupan ini adalah kehidupan yang baru sebagaimana kembalinya matahari setelah terbenam sehingga Ali bisa melaksanakan shalat ‘Ashar. Beliau juga menguatkan kesimpulannya dengan keterangan yang pernah beliau dengar bahwa Allah menghidupkan kembali paman Nabi (Abu Thalib), lalu dia beriman kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Namun, pendapat ini (yang beliau sebutkan dalam al- Tadzkirah, hal. 17) adalah tidak benar dan bertentangan dengan hadits shahih riwayat Muslim dari Anas di atas yang menyebutkan bahwa bapaknya berada di neraka dan juga hadits yang melarang beliau dari memintakan ampun untuk ibunya. Sedangkan pendapat beliau, pernah mendengar keterangan bahwa Allah menghidupkan kembali pamannya, Abu Thalib, adalah jauh dari benar. Karena di dalam Shahih al-Bukhari, dari hadits Abu Sa’id disebutkan, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan syafaat untuknya di sisi Allah sementara dia (Abu Thalib) berada di neraka dengan dijadikan bara api di bawah telapak kakinya seketika itu otaknya mendidih.
Dan dalam Shahihain disebutkan, dari Al-Nu ’man bin Basyir radhiyallahu 'anhu secara marfu ’, Bahwa penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, yakni di bawah telapak kakinya diletakkan bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Kalau begini keadaan Abu Thalib, bagaimana bisa ia disebut beriman?. Wallahu a ’lam. Bahwa penghuni neraka yang
paling ringan siksanya adalah
Abu Thalib, yakni di bawah
telapak kakinya diletakkan
bara api yang dapat
mendidihkan otaknya. Kalau begini keadaan Abu
Thalib, bagaimana bisa ia
disebut beriman?. Penutup Dari uraian di atas, ada beberapa point yang bisa kami simpulkan, sebagai berikut:
1. Larangan Allah terhadap Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam untuk memintakan ampun bagi ibunya, karena ibunya meninggal di atas kekufuran sehingga jelas tempat tinggalnya di neraka. Begitu juga beliau dilarang memintakan ampun untuk bapaknya, karena dia juga meninggal di atas kekafiran dan bertempat di neraka. 2. Status keduanya yang kafir dan musyrik disandarkan kepada riwayat-rriwayat yang shahih, salah satunya yang disebutkan Imam Muslim dalam Shahihnya. 3. Pendapat orang yang mengatakan bahwa bapak- ibu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang berada di neraka dinasakh (dihapus) dengan hadits ‘Aisah yang diriwayatkan al-Khatib, tidak dapat diterima. Karena hadits tersebut dhaif dan juga bertentangan dengan hadits shahih lainnya. 4. Pendapat yang mengatakan bahwa ayah-ibu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada di surga bertentangan dengan sunnah shahihah yang sangat jelas dan gamlang yang
menerangkan keduanya berada di neraka dan tidak boleh dimohonkan ampun untuk keduanya. Wallahu Ta’ala a’lam. 5. Karena itu, siapa yang mengatakan bahwa keduanya sebagai orang kafir atau musyrik sehingga tempat tinggal mereka di neraka telah sesuai dengan dalil-dalil shahih. Maka orang yang menuduh orang yang memiliki keyakinan seperti ini sebagai orang yang lancang terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan akidahnya terancam batal adalah orang bodoh dan jahil. Ucapannya tidak perlu diperhitungkan karena bertentangan dengan hadits shahih. 6. Kami sarankan kepada orang yang memiliki keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang mukmin agar segera bertaubat, karena pendapatnya bertentangan dengan dalil-dalil shahih dan berlawanan dengan pendapat para ulama. (PurWD/voa- islam.com) Oleh: Ust. Badrul Tamam Sumber : voa-islam.com

Senin, 21 Februari 2011

Al-Quran BerbicaraTentang UFO

Di dunia masa kini, ada dua macam kendaraan yang pada umumnya dipakai manusia dalam sejarah hidupnya, yaitu yang memakai tenaga tolak untuk maju contohnya hewan, mobil, kapal laut atau kapal udara. Yang lainnya memakai gaya centrifugal (melanting [dari titik tolak] ) seperti pesawat UFO yang populer disebut “piring terbang ”. Kedua macam kendaraan ini oleh Al- Quran surat An-Nahl ayat 8 disebutkan sebagai benda terapung dan ternak. Yang dimaksud dengan ternak yaitu kuda, unta, keledai, dls. Dan benda terapung maksudnya yaitu segala macam kendaraan yang diwujudkan oleh teknologi manusia termasuk di dalamnya “piring terbang ”. Khusus mengenai “piring terbang ”, oleh surat An-Nahl ayat 8 adalah kendaraan yang tidak diketahui manusia dalam waktu ribuan tahun dan oleh surat Az-Zukhruf ayat 12 menyebutkan bahwa Allah SWT menciptakan semua yang berpasangan- pasangan. Maksudnya, ada bagian positif dan bagian negatif dari “piring terbang ” itu (positif dan negatif=pasangan). Karena surat Az-Zukhruf ayat 12 ini membicarakan tentang alat transportasi maka tentunya istilah “berpasangan- pasangan” itu adalah kendaraan. Dan kendaraan itu tak lain mungkin adalah “piring terbang ” yang memiliki bagian positif dan bagian negatifnya. Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal* dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
(Surat An-Nahl ayat 8 ) * Bagal adalah peranakan kuda dengan keledai. Ayat ini menerangkan soal kendaraan yang biasa dan bisa dipakai oleh manusia. Manusia biasa menggunakan kendaraan ternak. Kuda dan keledai merupakan tenaga pembawa dan penarik maka keadaannya sama dengan mobil dan kapal terbang selaku pembawa dan penarik. Penggalan kata “bisa” pada paragraf ini, merupakan sesuatu yang belum diketahui manusia tentang kendaraan. Baik kuda dan keledai maupun mobil dan kapal terbang sama-sama menggunakan tenaga tolak ke belakang untuk maju ke depan, pada dasarnya kedua macam kendaraan itu memiliki prinsip yang sama. Lalu kendaraan apa yang belum diketahui manusia seperti yang disebutkan pada surat An-Nahl ayat 8 itu? Hal ini dijawab sendiri oleh Al- Quran : Dan yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan agar kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang Telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya ”. Dan Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.
(Surat Az-Zukhruf ayat 12 – 14) Kalau anda membaca susunan ayat Al-Quran ini sepintas mungkin anda tidak merasa mendapatkan sesuatu yang aneh dan baru. Akan tetapi, patut diketahui bahwa tidak ada satu pun ayat suci Al- Quran yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya yang percuma atau tidak memiliki makna. Kalau anda teliti dan merenungkannya dalam-dalam, semua ayat- ayat yang terkandung dalam Al-Quran itu selalu memiliki unsur-unsur keterkaitan antar
ayatnya, baik kaitan ayat yang ada di dalam surat itu sendiri atau kaitan ayat pada surat-surat Al-Quran yang lain. Sederhananya, keterkaitan satu ayat dengan ayat yang lainnya seperti dunia internet yang sedang anda jelajahi ini. Suatu halaman web yang berisi informasi selalu memiliki kaitan atau link, baik link yang menuju ke halaman web
itu sendiri ataupun link yang menuju ke halaman web yang
lainnya. Nah, semua unsur-unsur yang saling berkaitan itu tak jarang selalu menghasilkan pemahaman ilmiah yang dapat diterima oleh akal sehat.
Dengan begitu, memahami susunan ayat-ayat di atas ini maka “benda terapung ” ini adalah suatu kendaraan yang belum diketahui oleh manusia. Seperti yang disebutkan pada surat An-Nahl ayat 8. Susunan ayat-ayat diatas nantilah kita analisis belakangan. Sekarang kita masuki persoalan yang nantinya jadi bahan dalam penganalisaan itu. Al-Quran sering sekali menjelaskan persoalan rotasi dan orbit benda-benda angkasa. Hal itu merupakan gambaran bagi setiap orang agar selalu memperhatikan kenapa Bumi ini berputar pada
porosnya, kenapa planet ini bersama planet-planet yang lainnya beredar mengelilingi matahari yang juga berputar di porosnya. Semua planet itu tidak bertiang, tidak bertali dan juga tidak memiliki tempat bergantung. Semuanya bergerak dalam keadaan bebas terapung. Hanya Rawasialah yang memutar planet itu di sumbunya sambil berputar- putar mengelilingi matahari. Sungguh Rawasia itu adalah wujud penting dari sesuatu yang harus diteliti lebih dalam lagi oleh para astronom. Dengan mengetahui keadaan Rawasia setiap planet, maka tabir misteri alam semesta yang tak terbatas itu akan terkuak. Bumi yang beratnya sekitar 700 triliun ton tidak jatuh pada matahari karena gaya lantingnya (centrifugal) dalam keadaan mengorbit, sebaliknya Bumi juga tidak terlanting jauh keluar dari garis orbitnya sebab ditahan oleh gaya gravitasi pada matahari sebagai pusat orbit. Kekuatan gaya lanting Bumi dan gaya gravitasi adalah sama besarnya, orang ahli menyebutnya dengan Equilibrium. Oleh karena itulah sampai hari ini Bumi yang kita diami terus menerus berputar dan beredar mengelilingi matahari. Andaikan kalau Bumi hanya memakai gaya lantingnya saja
tanpa menggunakan gaya gravitasi. Maka, bisa dipastikan Bumi akan melayang jauh meninggalkan matahari. Dengan begitu, tenaga centrifugal seperti yang dimiliki Bumi dapat diadopsi oleh “piring terbang ” untuk terbang jauh jika tenaga gravitasinya dihilangkan. Nah, akhirnya kita pun sampai
pada pertanyaan ini, bagaimana cara menghilangkan gaya gravitasi itu? Salah satu caranya adalah dengan memutar bagian pesawat secara horisontal. Apabila putaran itu semakin cepat maka semakin besar pula gaya centrifugal yang dihasilkan dan semakin kecillah gaya gravitasinya, sampai akhirnya gaya gravitasi ini akan hilang sama sekali dan mulailah pesawat dapat terangkat dengan mudah tanpa terpengaruh oleh gravitasi Bumi. Mungkin anda akan bertanya, bagaimana bisa pesawat dapat
berputar terus menerus tanpa tumpuan? Dari situlah kita namakan pesawat ini dengan Shuttling System, yaitu pesawat berbentuk piring dempet yang ditengah- tengahnya adalah tempat penumpang. Anda bisa simak gambar ilustrasi struktur “piring terbang ” dibawah ini. A. Bagian Atas, kita namakan Positif, berputar ke kanan, semakin ke pinggir massanya semakin tebal dan berat. B. Bagian Bawah, kita namakan Negatif, berputar ke kiri, semakin ke pinggir massanya semakin tebal dan berat. C. Bagian Tengah, kita namakan Netral, disinilah tempat awak pesawat serta perlengkapan dan mesin yang memutar Positif dan Negatif sekaligus dalam satu kendali. Praktis pesawat pun akan terangkat dibantu dengan ledakan seperlunya untuk tenaga pembelok dan untuk penambahan kecepatan sewaktu berada di angkasa tanpa bobot.

Sabtu, 19 Februari 2011

Inilah Fakta MenarikTentang Islam


Inilah Fakta Menarik Tentang
Islam - Agama Islam bukan
hanya agama rasional tapi
juga agama unik sehingga
banyak menarik perhatian
pemeluk agama lain. Nah, berikut ini kita akan sedikit
mengulas tentang fakta
menarik sekaligus unik yang
terjadi dari agama Islam. Berikut dibawah ini beberapa
fakta sejarah maupun fakta
ilmiahnya: 1. Nama “Muhammad” adalah nama yang paling populer di
seluruh dunia (walaupun salah
mahomed..mohammed..dll)
dan menempati urutan nomor
dua di negara Inggris untuk
nama bayi laki-laki ( urutan pertama ditempati oleh nama
‘Jack’ ) 2. Albania merupakan negara satu-satunya di benua Eropa
yang 90% penduduknya
beragama Islam 3. Kata-kata berikut ini
diserap dari bahasa Arab :
Algebra, Zero, Cotton, Sofa,
Rice, Candy, Safron, Balcony,
bahkan ‘Alcohol ’ juga berasal dari bahasa Arab, Al-Kuhl,
yang mempunyai arti bubuk 4. Beberapa ayat di dalam Al-
Qur’an menggambarkan pentingnya persamaan hak
antara pria dan wanita
( secara perhitungan
matematik ). Kata “Pria” dan “Wanita ” di dalam Al-Qur ’an sama-sama berjumlah 24 5. Tidak ada apa-apa di dalam
Ka ’bah 6. Islam merupakan agama
yang pertumbuhannya paling
cepat di dunia menurut
banyak sumber, diperkirakan
akan menjadi agama nomor 1
pada tahun 2030 7. Umat Hindu percaya bahwa
di dalam Ka ’Bah ada salah satu dari Tuhan mereka yang
bernama ‘Shiva Lingam ‘ 8. Nabi Muhammad SAW
melaksanakan ibadah haji
hanya 1 kali dalam hidupnya 9. Jikalau sekarang Al-Qur ’an dihancurkan, maka versi arab
dari Al-Qur ’an akan segera di- recover oleh jutaan muslim,
yang disebut Huffaz yang
telah menghafalkan kata-kata
di dalam Al-Qur ’an dari mulai awal sampai dengan akhir
ayat. 10. Nama original dari kota
suci Madinah adalah “Yasthrib ” 11. pemeluk Islam bertambah
2,9% per tahun. Pertumbuhan
ini lebih cepat dibandingkan
dengan pertumbuhan jumlah
penduduk bumi sendiri yang
hanya 2,3% per tahun. 12. Berdasarkan data dari
Departmen Pertahanan
Amerika Serikat. Dari 1,4 juta
prajurit di militer Amerika,
diperkirakan ada sekitar 3.700
yang beragama Islam ( Muslim ). 13. islam menyebar ke bumi
nusantara ketika Nabi
Muhammad masi hidup 14. Sebanyak 8 juta orang
Muslim yang kini ada di AS
dan 20.000 orang AS masuk
Islam setiap tahun setelah
peristiwa 9/11 15. Jasad Nabi Muhammad
pernah ingin dicuri 2 kali,
namun kedua2nya gagal dan
salah satu yang mencuri
dihilangkan oleh Allah dari
bumi 16. Jasad Firaun (Ramses II)
yang tenggelam di laut merah,
Baru ditemukan
oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817.
setelah 3000 tahun berada di
bawah tanah dan pasir 17. Al Qur ’an adalah satu- satunya kitab suci yang bisa
dihafal jutaan manusia
(Hafidz/penghafal Al Qur ’an) sehingga keaslian/
kesuciannya selalu terjaga. 18. Jika agama lain bisa punya
lebih dari 4 versi kitab suci
yang berbeda satu dengan lainnya , maka Al Qur ’an hanya ada satu dan tak ada
pertentangan di dalamnya: 19. Para astronot telah
menemukan bahwa planet
Bumi itu mengeluarkan
semacam radiasi yang
berpusat di kota Mekah,
tepatnya berasal dari Ka ’Bah. Yang mengejutkan adalah
radiasi tersebut bersifat
infinite ( tidak berujung ),
radiasi tersebut menembus
planet mars dan masih
berlanjut. peneliti mempercayai bahwa radiasi
ini memiliki karakteristik dan
menghubungkan antara
Ka ’Bah di di planet Bumi dengan Ka ’bah di alam akhirat. 20. Penelitian lainnya
mengungkapkan bahwa batu
Hajar Aswad merupakan batu
tertua di dunia dan juga bisa
mengambang di air. 21. Shalat yang pertama
dilakukan oleh Rasulallah Saw
menghadap Masjidil Haram
adalah shalat Ashar bersama
para sahabat, setelah
sebelumnya berkiblat ke Masjidil Baitul Maqdis selama
enam belas bulan. 22. IBRAHIM adalah “Bapak” dari tiga agama besar, yakni
“Judaisme”, “Nasrani”, dan “Islam”. 23. Malaikat tidak terhitung
jumlahnya dan hanya Allah
yang mengetahuinya. 24. Islam, berarti “submisi” atau “menyerah ” kepada satu Tuhan, Allah. “Islam” juga berasal dari kata “salam”, “perdamaian” dan yang kedua dalam arti “berserah diri”. demikian, arti dari “Islam” adalah “kedamaian yang sempurna yang datang bila
kita hidup berserah diri
kepada Allah ”. 25. Rasulullah pernah
membelah bulan menjadi 2
bagian, dengan hanya
menunjuk bulan dengan
jarinya. diabadikan Allah
dalam al-Qur’an surah Al- Qamar ayat 1: “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan
pun telah terbelah. ” 26. sebelum Nabi Ibrahim
menginjakkan kakinya ke
tanah Makkah sudah ada
bangunan Ka ’bah yang telah dibangun oleh malaikat dan
generasi
sebelum Nabi Ibrahim as. Hal
itu dapat dipahami dari kata
“Yarfa ’u” meninggikan berarti meninggikan bangunan yang
sudah ada. 27. Aliran sesat di Indonesia
dalam rentangan waktu
selama 6 tahun saja (2001 – 2006) telah mencapai angka
250 aliran. 28. Rasulullah menyebutkan
ada 73 golongan dalam islam,
dan hanya 1 yang akan masuk
jannah yaitu “Al Jama ’ah”. 29. Nabi Muhammad tidak bisa
membaca dan tidak bisa
menulis, namun ingatannya
sangat kuat dan sangat cerdas. 30. kata2 terakhir Nabi
Muhammad sebelum wafat
adalah “Ummatii … ummatii … ummatii ” yang mengungkapkan betapa besar
cintanya kepada umatnya. 31. Selama 23 kali perang
semasa Rasulullah memimpin,
hanya sekali kekalahan yang
di derita kaum muslimin,
yakni, perang uhud 32. Musa A.S adalah nama
yang paling sering disebut
dalam Al-Qur ’an, sedangkan maryam adalah satu2nya
nama perempuan yang
disebut dalam Al-Qur ’an. 33. Al-Qur ’an adalah buku terlaris di benua eropa. 34. Semua anak Nabi
Muhammad, yakni, Al-
Qasim,Abdullah dan Ibrahim,
meninggal kurang lebih pada
usia 2 tahun. Allah sengaja
memanggil mereka lebih awal agar kaum muslimin tidak
mengangkat mereka menjadi
rasul yang baru. 35. Imam Ali bin Abi Thalib adalah satu-satunya orang
yang pernah lahir di dalam
Ka ’bah. 36. Hajar Aswad itu
diturunkan dari surga,
warnanya lebih putih
daripada susu, dan dosa-dosa
anak cucu Adamlah yang
menjadikannya hitam. 37. Al Khowarizmi
(matematika), Jabir Ibn
Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun
(sosiologi dan sejarah), Ibnu
Sina (kedokteran), Ar Razi
(kedokteran), Al Biruni (fisika), Ibnu Batutah
(antropologi) adalah contoh
dari ratusan cendikiawan
muslim yang menjadi rujukan
dalam ilmu pengetahuan
modern. 38. Hijir Ismail ini dahulu
merupakan tempat tinggal
Nabi Ismail, disitulah Nabi
Ismail tinggal semasa
hidupnya dan kemudian
menjadi kuburan beliau dan juga ibunya. 39. Maqom Ibrahim bukanlah
kuburan Nabi Ibrahim
sebagaimana dugaan atau
pendapat sebagian orang.
Maqom Ibrahim adalah batu
pijakan pada saat Nabi Ibrahim membangun Ka ’bah. 40. pasukan Salib datang ke
Timur ketika Khalifah Bani
Abbas berada dalam masa
kemunduran. Tak diduga,
banyak anggota pasukan Salib
tertarik kepada Islam dan kemudian menggabungkan
diri dengan pasukan Salib
lainnya. Thomas Arnold,
dalam Al Da ’wah ila Al Islam, menyebutkan bahwa mereka
masuk Islam setelah melihat
kepahlawanan Salahuddin
sebagai cerminan ajaran Islam. well, semoga fakta islam
tersebut bisa menambah
pengetahuan para pembaca
sekalian.. Terimakasih

Jumat, 18 Februari 2011

Komentar Media Massatentang Buku SeratusTokoh yang PalingBerpengaruh dalamSejarah

Siapakah yang paling
berpengaruh dalam sejarah?
Hart menyusun daftar urut
(peringkat) seratus tokoh
dengan argumentasi yang
meyakinkan, tetapi juga mengundang perdebatan. Apa alasan Hart
menempatkan Nabi
Muhammad pada peringkat
pertama? Mengapa pula Nabi
Isa menempati peringkat
ke-3, sedangkan Isaac Newton peringkat ke-2? John F.
Kennedy termasuk ke dalam
seratus tokoh, tetapi mengapa
Mahatma Gandhi tidak? Siapa
yang lebih berpengaruh, Karl
Marx atau Kong Hu-Cu? `Umar bin Khattab atau Alexander
yang Agung? Seratus Tokoh penuh dengan
argumentasi, penuh pula
dengan humor, diterjemahkan
dengan gaya kocak Mahbub
Djunaidi. Dan inilah antara lain
pendapat pers: Keseratus bahasan riwayat
hidup ini mudah dicerna,
singkat-padat dan tajam;
sedang bukunya sendiri akan
merupakan tambahan yang
berharga bagi lemari referensi pembaca. Roger Bonham , dalam Columbus Dispatch Cara Hart menempatkan
kedudukan seseorang
tampaknya seperti
keterlaluan bagi sementara
orang …, tetapi buku ini merangsang pikiran dan
sangat mengasyikkan. Douglas Cox , dalam Los Angeles Times Judulnya saja buku Seratus
Tokoh, tetapi nilainya bisa jadi
paling sedikit sama dengan
seribu perbedaan pendapat.
Dan justru itu yang
diharapkan penulisnya. Scholastic Magazine Para pejuang hak-hak wanita
boleh mencatat kenyataan
dicantumkannnya hanya dua
orang wanita dalam daftar
Hart. Do Carter , dalam Seattle Post- Intelligencer Buku Hart, di samping
merupakan rangkuman
sejarah dunia yang
bermanfaat, juga merupakan
sumber perdebatan sengit
yang tak akan ada habisnya. Detroit Free Press Seratus Tokoh adalah sebuah
buku yang memuat peringkat
tokoh-tokoh sejarah menurut
ahli astronomi Michael H. Hart,
dan mengundang para
pembaca untuk melawan pilihannya. Kenneth L. Woodward , dalam Newsweek Karya Hart mengagumkan
dalam hal tidak
chauvinistisnya ... Sebuah
buku tebal yang besar dan
berat penuh fakta-dan-
pertentangan yang disebut Seratus Tokoh dan
ditakdirkan untuk menjadi
sebuah buku yang laris.

Curhat Setan[Extended]: Al-Quranyang Dibakar!

Pembatalan pembakaran Al-
Quran hanya omong kosong
belaka. Faktanya, dua pendeta
justru melakukannya. Yang
melakukan bukan Pendeta
Terry Jones, tapi kedua pengikutnya. Pendeta Bob Old
bersumpah melaksanakan
aksinya membakar Al-Quran.
Bersama Pendeta Danny Allen,
Old melakukan aksinya di
hadapan sekelompok orang yang sebagiannya merupakan
awak media, Sabtu (11/9) lalu,
sama persis pada hari yang
dideklarasikan Terry Jones. Kedua pendeta itu menyiram
dua buah mushaf dan sebuah
teks Islam lainnya dengan
cairan pembakar, lalu
menyulutnya dengan api.
Mereka menyaksikan bersama-sama kitab suci umat
Islam itu menjadi abu. Aksi dua pendeta itu
dilakukan di pekarangan
belakang kediaman Old.
Mereka mengatakan aksinya
merupakan pesan dari Tuhan.
Old mengatakan gereja telah mengecewakan banyak orang
karena tidak mendukung
aksinya. “Saya yakin bahwa sebagai negara kita berada
dalam bahaya, ” ujarnya sebagaimana dikutip media
online Tennessean (12/10). “Ini adalah buku berisi kebencian, bukan cinta, ” katanya sambil memegang
Al-Quran sebelum kemudian
membakarnya. “Ini adalah kitab palsu, Nabi Muhammad
adalah nabi palsu dan itu
merupakan wahyu palsu, ” tambahnya. Kedua pendeta itu lantas
melakukan apa yang
disebutnya sebagai
“demonstrasi damai ” dengan sedikit gegap gempita.
Delapan orang wartawan ikut
menyaksikan aksi kedua
rohaniwan gereja itu. “Anjing !” rutuk saya sesaat setelah membaca berita itu,
“Ini gila! Kita harus perang! Terkutuklah mereka !” Umpatan-umpatan dan caci-
maki saya keluar tanpa
kontrol. “Setan !” teriak saya sekali lagi. Tiba-tiba Tuan Setan muncul di
hadapan saya! Wajahnya
penuh kemarahan. “Bakarlah Al-Quranmu !” kata Tuan Setan tiba-tiba. Jelas saya berang mendengar
ucapannya. Emosi saya naik
pitam. Dada saya turun naik.
Dan seketika kutuk dan
serapah membrudal dari
mulut saya. “Percuma selama ini aku mulai menaruh rasa
simpati kepadamu! Kau
ternyata memang pantas
dilaknat dan dimusuhi!
Terkutuklah kau !” “Bakarlah Al-Quranmu !” katanya sekali lagi, dengan
nada yang lebih tegas.
Matanya nyalang. Gigi-giginya
gemertak. Lalu telunjuknya
mengarah tepat ke wajah
saya. “Bakar !” ia berteriak, “Bakarlah kalau memang selama ini ia hanya menjadi
kertas, bakarlah! Bakarlah !” Napas saya turun naik, mata
saya memerah, tangan saya
mengepal. “Terkutuklah kau !” teriak saya. “Mana Al-Quranmu !?” bentak Tuan Setan. Tiba-tiba saya tersentak. Tiba-
tiba saya merasa harus
menemukan Al-Quran milik
saya yang entah saya simpan
di mana, sementara Tuan
Setan terus menerus berteriak “Bakar! Bakarlah Al- Quranmu!” Saya terus mencari. Di manakah saya menyimpan
Al-Quran saya? Saya
membongkar isi lemari,
mengeluarkan buku-buku,
berkas-berkas, tumpukan
kliping koran, dan kertas- kertas apa saja dari dalam
lemari. Di manakah Al-Quran
saya? Saya mulai resah
mencari di mana Al-Quran
saya. Saya ke ruang tamu, ke
ruang tengah, ke dapur, ke seluruh penjuru rumah. Saya
memeriksa ke belakang
lemari, ke sela-sela tumpukan
kaset dan CD-CD, ke mana-
mana. Tetapi, saya tak
menemukan Al-Quran saya! Di manakah saya menyimpan
Al-Quran saya? “Bakarlah Al-Quranmu !” sementara Tuan Setan terus-
menerus berteriak, “Bakar !” Saya mulai panik dan resah,
kemarahan saya mulai pudar,
ternyata saya tak bisa
menemukan Al-Quran saya
sendiri. “Bakarlah Al-Quranmu kalau itu hanya menjadi kertas
usang yang kausia-siakan !” kata Tuan Setan tiba-tiba. Dada saya berguncang hebat.
Pelan-pelan tapi pasti saya
mulai menangis—tetapi saya belum menyerah untuk terus
mencari Al-Quran saya. Di
mana Al-Quran saya? Ada
sebuah buku tebal berwarna
hijau di atas lemari tua di
kamar belakang, saya kira itulah Al-Quran saya, setelah
saya ambil ternyata bukan:
Life of Mao. Saya kecewa.
Saya terus mencari sambil
diam-diam air mata saya mulai
meluncur di tebing pipi. “Bakarlah Al-Quranmu !” suara Tuan Setan kembali memenuhi
ruang kesadaran saya. Tetapi
kini saya tak bisa marah lagi,
ada perasaan sedih dan
kecewa mengaduk-aduk dada
saya. Ada sesak yang tertahan, sementara isak
tangis tak sanggup saya
tahan. Akhirnya saya menyerah.
Saya tak menemukan Al-
Quran saya di mana-mana di
setiap sudut rumah saya! Kemudian Tuan Setan
tersenyum menang, ia
menyeringai dan menatap
saya dengan sinis. “Jadi, kenapa kau mesti marah saat
ada orang yang membakar
dan menginjak-injak Al-
Quran?” kemudian ia tertawa. “Lucu! Ini lucu! Mengapa kau mesti marah sedangkan kau
sendiri tak
memperdulikannya selama
ini?” Saya terus menangis. Dada
saya berguncang. Tuan Setan
tertawa. “Jadi, mengapa kau mesti mengutuk mereka yang
menyia-nyiakan dan
merendahkan Al-Quran
sementara kau sendiri
melakukannya —diam-diam?” katanya sekali lagi. Ada perih
yang mengaliri dada saya,
mendesir gamang ke seluruh
persendian saya. Tiba-tiba saya ingat sebuah
tempat: gudang belakang
rumah. Barangkali Al-Quran
saya ada di situ! Saya bergegas bangkit dari
tubuh saya yang tersungkur,
saya berlari menuju gudang
belakang, membuka
pintunya, lalu menyaksikan
tumpukan barang-barang bekas yang usang dan
berdebu. Sebuah kotak
tersimpan di sudut ruang
gudang, saya segera ingat di
situlah saya menaruh buku-
buku bekas yang sudah tua dan tak terbaca. Seketika saya
hamburkan isi kotak itu,
membersihkannya dari debu,
dan akhirnya … saya mendapatkannya: Al-Quran
saya! Saya menatap Al-Quran saya
dengan tatap mata rasa
bersalah. Saya mengusap-
usapnya, meniupnya,
membersihkannya dari debu
yang melekat di mushaf tua itu. Kemudian Saya
mendekapnya erat-erat — mengingat masa kecil saya
belajar mengeja huruf
hijaiyyah, menghafal surat Al-
Fatihah … “Astagfirullahaladzhim …” tiba-tiba dada saya
bergemuruh, air mata saya
menderas. Tuan Setan tertawa lepas.
“Bakar saja Al-Quranmu !” katanya sekali lagi,
“Bukankah ia tak berguna lagi bagimu?” nada bicaranya mengejek. Saya masih mendekap Al-
Quran saya, tergugu dengan
dada seolah tersayat sembilu. “Jika pendeta yang membakar Al-Quran itu
mengatakan bahwa Al-Quran
adalah buku yang penuh
kebencian, bukankah mereka
hanya menilainya dari
perilaku yang kalian tunjukkan? Bila mereka
mengira Al-Quran hanyalah
kitab omong kosong dan
Muhammad yang
membawanya hanya nabi
palsu yang berbohong tentang firman, bukankah itu
karena kau —kalian semua — tak pernah sanggup
menunjukkan keagungan dan
keindahannya? Kau, kalian
semua, harus menjelaskannya! “Jangankan menunjukkan keindahan dan keagungan Al-
Quran, membacanya pun kau
tak! Jangankan menaklukkan
musuh Tuhan sementara
menaklukkan dirimu sendiri
pun kau tak sanggup! Apa sih maumu? Al-Quran tak pernah
mengajarkan permusuhan dan
kebencian, Al-Quran tak
pernah mengajarkan hal-hal
yang buruk, lalu kenapa kau
terus-menerus melakukannya? Al-Quran
selalu mengajarimu kebaikan,
mengapa kau tak pernah mau
mengikutinya? Heh, ya, aku
baru ingat, jangankan
mengikuti petunjuknya, memahami dan membacanya
pun kau tak! “Lalu kenapa kau harus marah ketika Al-Quran dibakar?
Mengapa kau tak memarahi
dirimu sendiri saat kau
menyia-nyiakan Al-Quranmu?
Ini bukan semata-mata soal
pendeta yang membakar Al- Quran, ini bukan semata-mata
soal pelecehan terhadap
institusi agamamu, ini bukan
semata-mata soal permulaan
dari sebuah peperangan antar-
agama, ini semua tentang kau yang selama ini menyia-
nyiakan Al-Quran, tentang
kau yang secara laten dan
sistematis menyiapkan api
dan bensin dari perilaku
burukmu untuk menunggu Al-Quran dibakar lidah waktu
yang meminjam tangan
orang-orang yang membenci
agamamu! Mereka tak akan
berani membakar Al-Quran,
kitab sucimu itu, kalau saja selama ini kau sanggup
menunjukkan nilai-nilai agung
yang dibawa Nabimu, nilai-
nilai kebaikan yang
termaktub dalam teks suci
kitab yang difirmankan Tuhanmu! Maka bila kau tak
sanggup menggemakan Quran
amanat Nabimu ke segala
penjuru, tak sanggup
menerima cahayanya dengan
hatimu, bakarlah Al-Quranmu! ” Lalu seketika terbayang, Al-
Quran yang teronggok sia-sia
di rak-rak buku tak terbaca,
Al-Quran yang diletakkan di
paling bawah tumpukkan
buku-buku dan majalah, Al- Quran yang kesepian tak
tersentuh di masjid dan
langgar-langgar, Al-Quran
yang tak terbaca dan (di)sia-
sia(kan)! Saya menangis; memanggil
kembali hapalan yang entah
hilang kemana, mengeja
kembali satu-satu alif-ba-ta
yang semakin asing dari
kosakata hidup saya. Saya melacaknya dalam ingatan
saya yang terlanjur dijejali
kebohongan, kebebalan,
penipuan, dan pengkhianatan-
pengkhianatan. Di manakah
Al-Quran dalam diri saya? “Maka, bakarlah Al-Quran oleh tanganmu sendiri !” kata Tuan Setan, “Hentikan airmata sinetronmu, hentikan amarah
palsumu, hentikan aksi
solidaritas penuh
kepentinganmu, hentikan
rutuk-serapah politismu,
sebab kenyataannya kau tak pernah mencintai Al-Quran!
Bakarlah !” Tuan Setan tertawa lepas. “Maafkan …” suara saya tiba- tiba pecah menjelma tangis,
“Maafkan …,” lalu saya bergegas pergi dengan Al-
Quran yang kugamit di lengan
kananku. “Bakar saja Al-Quranmu !” teriak Tuan Setan yang
kutinggalkan di gelap ruangan
gudang. Lamat-lamat
tawanya masih ku dengar di
ujung jalan. Saya mencari masjid, saya ke
mal, saya ke pasar, saya ke
terminal, saya ke sekolah,
saya ke mana-mana … Saya ingin mencari mushaf-mushaf
Al-Quran yang disia-siakan.
Saya ingin membersihkannya
dari debu dan mengajak
sebanyak mungkin orang
membacanya. Saya masih bergegas dengan langkah
yang galau. Saya ingin
mengabarkan keagungan dan
keindahan Al-Quran, tapi
bagaimana caranya?
Sedangkan saya sendiri tak memahaminya? Saya ingin
menggaungkannya di mana-
mana, tapi bagaimana
caranya? Saya terus bertanya-tanya
bagaimana agar Al-Quran tak
dibakar? Bagaimana agar Al-
Quran tak terbakar?
Bagaimana? Ya, Tuhan akukah insan
yang bertanya-tanya?
Ataukah aku Mukmin yang
sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam
muntahan isi bumi Aduhai, akan kemanakah
kiranya aku bergulir
Di antara tumpukan
maksiat yang kutimbun
saat demi saat
Akankah kulihat sezarah saja kebaikan yang pernah
kubuat? Ya Tuhan, nafasku
gemuruh, diburu
firmanmu! [KH. Mustafa Bisri,
Tadarus] Saya terus menangis dalam
langkah-langkah gelisah yang
bergegas, haruskah saya
melawan semua ini dengan
amarah dan kebencian?
Ataukah saya harus menunjukkan kepada mereka
semua yang membenci Al-
Quran bahwa sungguh
mereka telah keliru? Haruskah
saya kembali marah dan
membakar kitab suci mereka di mana-mana, atau akan lebih
baikkah jika saya jawab
mereka dengan cinta dan
kasih sayang —meneladani Muhammad dengan
menunjukkan kepada mereka
kebaikan cahaya Al-Quran
karena sesungguhnya mereka
hanya belum tahu!? “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Bacalah !” tiba-tiba suara Tuan Setan datang lagi,
“Biarkanlah mereka membakar mushaf sebab Al-
Quran bukanlah kertas yang
bisa mereka bakar. Bacalah Al-
Quran hingga suaranya
terdengar oleh hatimu,
bergema di seluruh ruang kesadaranmu, maka kau tak
akan kecewa mendapati
mushaf-mushaf yang
terbakar atau ayat-ayat yang
teronggok di ruangan-
ruangan tua berdebu buku. Sebab Al-Quran bukanlah
mushaf, Al-Quran adalah
semesta, nama di luar kata!
Maha benar Allah dengan
segala firman-Nya. ” Saya terdiam mendengar
kata-kata Tuan Setan yang
terakhir, “Tuan Setan? Sebenarnya siapakah kamu?
Apa agamamu ?” Ia terkekeh, bahunya
berguncang, “Akulah yang kau lihat dalam tidurmu:
berlarian atau terbang atau
tertawa tanpa suara, sesuatu
yang lama kau idamkan tetapi
lupa kau sapa. Akulah yang
membakar Al-Quranmu !” Ia terus terkekeh, terbatuk,
lalu menghilang.

Sabtu, 12 Februari 2011

MELACAK NABI MUHAMMAD DALAM ALKITAB


Nabi
daneil,
dia
seorang
nabi,
juga meninggalkan
nubuat
seorang
nabi,
tertulis
dalam kitab
daneil
yang
juga merupakan nilai nilai tertulis dari seorang nabi Daneil untuk umatnya, memperingatkan akan hadirnya nabi masa depan, mari kita simak, sejauh mana kebenaran yang tertuang dalam kitab nabi nabi itu. Sebab saya menggunakan refrensi dari peninggalan perjalanan Nabi masa lalu, itu tentu karena ada hubungan erat antara Islam dan Kristen, yang tidak bisa didustakan oleh siapa saja. Bahkan kedekatan Islam dan Kristen ini pernah diungkap oleh Allah
didalam al-quran dengan sebutan Nashrani Dan sesungguhnya kamu dapati YANG PALING DEKAT PERSAHABATANNYA dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "SESUNGGUHNYA KAMI INI ORANG NASRANI". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. (al- Maidah 82) PARA NABI ITU BERSAUDARA KARENA BERBAGAI SEBAB. IBU MEREKA BERBEDA SEMENTARA AGAMANYA SATU. ”( Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya (3443)) Inilah dalil yang mendorong saya melacak jejak kenabian Muhammad dalam Alkitab, karena dorongan Quran dan hadist nabi, menguatkan saya untuk terus mencari, jika suatu saat kebenaran itu harus
dibuktikan. Dalam bagian ini saya mencoba menapak alkitab yang memberi petunjuk, bahwa nama muhammad terabadikan dalam alkitab. Nama Muhammad bukan rekayasa atau dipaksakan untuk membenarkan sebuah tulisan itu benar Muhammad, tetapi paling tidak ini bisa menjadi pijakan berpikir tajam, melacak jejak kenabian dalam alkitab, peninggalan dari sejarah masa lalu. Didalam Injil Kenyataan (wahyu kepada Yahya maksudnya) pasal 19 ayat 11 sampai 12, disana disebutkan:
Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "YANG SETIA DAN YANG BENAR", Ia menghakimi dan berperang dengan adil. 19:11 Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri. 19:12 Perhatikan sekali lagi Dua dalil alkitab diatas, betul betul 2 ayat diatas sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yesus , karena: 1. Yesus tak pernah mengendarai kuda putih, tetapi setahu saya, Yesus hanya naik keledai, dan tak pernah terlibat peperangan apapun , karena yesus memang sangat diplomatif atau nabi diplomatik, yang menyelesaikan masalah dengan jalan diplomasi, tidak menempuh bentuk bentuk peperangan, sedangkan gambaran alkitab, dia adalah penunggang kuda 2. Muhammad saw lah yang memiliki panggilan Yang Amanah dan Benar (Setia dan Benar), ia menjalankan hukum
hukum Allah mengadili manusia dengan adil, adalah kebiasaan seorang nabi akhir zaman yang di nubuatkan dalam alkitab. 2. Didalam ayat ini, dijelaskan kedudukan Nabi Muhammad didalam pemerintahan dunia. Seperti lazimnya pada jaman dahulu orang besar-besar selalu berkendaraan kuda putih, karena warna putih berarti kebersihan.
"Banyak mahkota" berarti "banyak kedudukan." Dalam hal ini menjadi kenyataan pada diri Nabi Muhammad bahwa beliau banyak kedudukannya, di dunia seperti kedudukan atau jabatan Nabi, Panglima Perang, Pemimpin Negara, juga pemutus Hukum. Nabi Muhammad juga digelari orang sebagai "Orang yang Dipercaya dan Benar" atau "Al Amin." Matanya seperti bola api, serta merta menunjukkan sifatnya yang sangat tegas, keras dan kuat. Dengan sitat-sifat inilah ia memutuskan hukum, dengan keadilan dan kebenarannya. SEDIKIT ULASAN Kalau Dia disini umpamanya ditafsirkan dengan Kristus Yesus, maka saya kira tidak tepat, sebab:
1.Sepanjang pembacaan saya pada Injil, belum pernah saya jumpai keterangan bahwa Yesus pernah naik kuda. Yang pernah dinaikinya hanyalah keledai, itupun warnanya tidak jelas.
2.Yesus menurut Injil, malahan tidak bermahkota banyak, sebab:
a.Kenabian Yesus tidak diakui bangsa Yahudi, bangsa dimana dia diutus.
b. Kerajaan Yesus juga tidak diakui, mereka bahkan menyalibkan "rajanya" dengan ejekan Isa Nasrani Rex
Israel (INRI).
c.. Yesus bahkan belum pernah
sekalipun mengadakan perang
melawan musuh-musuhnya.
d. Didalam memutuskan hukum, Yesus mengambil jalan diplomatis, bukan tindakan bijaksana. (Yahya 8: 2-11) Didalam Injil Kenyataan (wahyu kepada Yahya maksudnya) ayat ke-15 dari pasal yang ke-19 tertulis bunyinya: "Sedang dari mulutnya keluarlah sebilah pedang yang tajam, supaya diparangkannya kepada sekalian bangsa. Maka iapun memerintah dengan tongkat besi, dan ialah yang akan mengirikkan anggur kehangatan murka Allah yang Maha Kuasa." Tafsir ayat itu ialah:
1.Sebilah pedang yang tajam artinya komando-komando perang yang tegas.
2. Tongkat besi artinya kekuatan dan ketegasan pemerintahannya.
3.Mengirikkan anggur, artinya memijak-mijak anggur. Seluruh tafsir kemudian bunyinya: Sedang ia akan mengeluarkan komando- komando perang yang tegas, kepada sekalian bangsa kafir, dan para penyembah berhala. Ia, dengan kuat kekuasaan pemerintahannya akan menginjak-injak dan memerangi segala macam kemabukan, yang adalah menjadi kebencian Allah s.w.t. Hidup Nabi Muhammad kalau diperhatikan, akan nampak, penuh dengan perang dan peperangan melawan orang- orang kafir, ia dengan perkasanya memerangi mereka, dan menghancurkan kejahiliyahan mereka. Sangat menakjubkan, bila tanda tanda tersebut di arahkan pada Nabi Muhammad saw , tak seorangpun nabi yang memiliki kekuatan besar yang
disaksikan sejarah, hingga meninggalkan jejak jejak sejarah hingga saat ini kecuali sejarah Nabi Muhammad SAW. Tanda tanda itulah yang ada pada nabi Muhammad sebagai nubuat alkitab, bukan sesuatu yang dikarang karang, agar supaya cocok atau ada kemiripan, tetapi adalah suatu bukti pengakuan alkitab , bahwa Nabi Muhammad itu akan datang sesudah Yesus tiada .

Jumat, 11 Februari 2011

INILAH WUJUD NYATA MALAIKAT MAUT


Alkisah
menurut
shirah,
pernah
Nabi
Ibrahim as
berdialog
dengan
Malaikat
Maut
soal sakratulmaut.
Sahabat
Allah
itu
bertanya, “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?” Malaikat menjawab pendek: “Engkau tak akan sanggup. ” “Aku pasti sanggup,” tegas beliau. “Baiklah, berpalinglah dariku, ” pinta si Malaikat. Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut
berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika
itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan! Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, “Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya. ” Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang
beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di
hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum. “Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya, ” kata Nabi Ibrahim as.

INILAH SOSOK FIR'AUN YANG DI TENGGELAMKAN DILAUT MERAH


Menurut
studi
yang
dilakukan
oleh
Sejarawan Alan
Gardiner,
setelah
kematian
Thutmose
I dan
masa
persinggahannya
selama
40 tahun di Madyan / Midian, Musa memutuskan untuk kembali ke tanah Mesir tempat beliau dibesarkan. Allah menugaskan Musa untuk menyampaikan ajaran agama yang hakiki kepada Fir'aun. Pada saat itu, Mesir dipimpin oleh Raja Thutmose II yang memperistri Ratu Hatshepsut . Thutmose II, menurut sejarah bukanlah sosok Fir'aun yang hebat, sebaliknya istrinya Hatshepsut yang banyak berperan penting bagi kemajuan kerajaan. Walaupun
bukan merupakan sosok pemimpin yang dikatakan berpengaruh, Gardiner tetap meyakini Thutmose II merupakan kandidat terkuat fir'aun yang melakukan pengejaran terhadap Musa beserta kaum Bani Israel. Hal itu dikarenakan banyaknya kecocokan dengan studi sejarah yang ia lakukan. Garnier juga menambahkan bahwa di pusara tempat berdiamnya mummi Thutmose II, hampir tidak ditemukan ornamen-ornamen dan benda-benda berharga "semewah" pusara raja-raja Mesir kuno yang lainnya. Ada kesan bahwa raja ini tidak begitu disukai dan dihormati oleh rakyatnya, sehingga mereka tak peduli dengan kematian sang Raja. Selain itu, kematiannya yang mendadak juga menjadi salah satu alasannya. Penelitian terhadap Mummi Thutmose II yang ditemukan di situs Deir el-Bahri pada tahun 1881 mengungkapkan bahwa terdapat banyak bekas cidera di tubuhnya, dan Mummi-nya ditemukan tidak dalam kondisi yang bagus. Hal ini mungkin menandakan Thutmose II mati secara tidak wajar. Apakah cidera di tubuhnya itu akibat hempasan kekuatan gelombang Laut Merah yang secara tiba-tiba tertutup kembali? Wallahu 'alam Bishawab (Hanya Allah Yang Maha Tahu: red) Al-Quran sendiri mengisahkan detik-detik terakhir kehidupan Sang Fir'aun :
Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia ;" Saya percaya bahwa tidak ada
Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan
saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". ( QS Yunus 90). Dari ayat diatas kita dapat mengetahui bahwa Fir'aun mencoba memohon kepada Allah agar ia diselamatkan ketika air mengenggelamkan raganya. Namun sangatlah jelas bahwasannya tindakan Fir'aun hanyalah suatu kebohongan semata sebagai alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari maut.

Setelah sang Fir'aun tewas pada periode pemerintahannya yang tergolong singkat, besar kemungkinan jalannya roda pemerintahan diambil alih sementara oleh sang Ratu yang tak lain ialah Hatshepsut sebelum akhirnya Thutmose III naik tahta. Jika benar Thutmose II merupakan Fir'aun yang dimaksud, ada suatu kemungkinan kronologi sejarahnya menjadi demikian : Pertama, Musa dibesarkan dilingkungan kerajaan Mesir saat Thutmose I berkuasa, dan istri Thutmose I yang menemukan bayi Musa saat hanyut di Sungai Nil. Kedua, selang puluhan tahun setelah Musa melarikan diri dari tanah Mesir karena ancaman hukuman mati akibat peristiwa terbunuhnya seorang prajurit kerajaan olehnya, ia kembali untuk menyampaikan ajaran Allah kepada Fir'aun. Namun pada saat itu mungkin Thutmose I telah meninggal dan digantikan putranya Thutmose II. Mummi Thutmose II Mengapa Thutmose II Diyakini Sebagai Firaun Yang Tenggelam di Laut Merah Sedangkan Mummi-nya Sendiri Berhasil Ditemukan? Pertanyaan diatas memang kerap ditanyakan. Mereka yang bertanya kebanyakan beranggapan bahwa Jasad Fir'aun tidak mungkin berhasil
ditemukan apalagi dalam bentuk Mummi, sebab telah tenggelam di Laut Merah bersama bala tentaranya. Maha Besar Allah yang telah dengan sengaja menyelamatkan jasad sang Fir'aun. perhatikan firman Allah berikut:
Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesunguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuatan Kami . ( QS Yunus 91-92).

9 PEDANG PUSAKA NABI MUHAMMAD SAW YANG SUNGGUHMENAKJUBKAN


1. Al Ma ’thur
Pedang yang dimiliki oleh Nabi
Muhammad SAW sebelum menerima wahyu yang pertama di Mekah. Pedang ini diberi oleh ayahanda beliau (peninggalan bapak beliau), dan dibawa waktu hijrah dari Mekah ke Medinah sampai akhirnya diberikan bersama- sama dengan peralatan perang lain kepada Ali bin Abi Thalib. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: ‘Abdallah bin Abd al- Mutalib ’.


2. Al Adb Al- ’Adb, nama pedang ini, berarti ‘memotong ’ atau ‘tajam. ’ Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Beliau menggunakan pedang ini di Perang Uhud dan pengikut-pengikutnnya
menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.


3. Dhu Al Faqar
Sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan pada waktu perang Badr. Dan dilaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan pedang ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian Ali mengembalikannya ketika Perang Uhud dengan bersimbah darah dari tangan dan bahunya, dengan membawa Dhu Al Faqar di tangannya. Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.


4. Al Battar
Battar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai ‘Pedangnya para nabi ‘, dan di dalam pedang ini terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi : ‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW ’. Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika beliau turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.


5. Hatf
Sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS mengambil pedang ‘Al Battar ’ dari Goliath sebagai rampasan ketika beliau mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun. Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk ‘bekerja ’ dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan beliau juga membuat senjatanya sendiri. Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu. Beliau menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.


6. Al Mikhdham
bahwa pedang ini berasal dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan ke anak-anaknya Ali. Tapi ada kabar lain bahwa pedang ini berasal dari Ali bin Abi Thalib sebagai hasil rampasan pada serangan yang beliau pimpin di Syria. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Zayn al- Din al-Abidin ’.
7. Al Rasub
pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Ja’far al-Sadiq ’.


8. Al Qadib:
Al-Qadib berbentuk blade tipis
sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan. Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah – Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib. ” Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.


9. Qal ’a:
Pedang ini dikenal sebagai “Qal’i” atau “Qul’ay. ” Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India Cina. Ulama negara lain bahwa kata “qal’i” merujuk kepada “timah ” atau “timah putih ” yang di tambang berbagai lokasi. Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika
beliau menemukan air Zamzam di Mekah. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah. ” Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang. Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi (Cairo: Hijr, 1312/1992).