Kamis, 03 Maret 2011

Asal mula lambang Bulan-Bintang dalam Islam


Assalamu `alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Beberapa versi pengamat sejarah mengatakan bahwa sebenarnya asal muasal lambang bulan bintang berasal dari lambang khilafah Islamiyah terakhir yang dimiliki umat Islam, yaitu Khilafah Turki Utsmani.
Khilafah ini adalah warisan terakhir kejayaan umat Islam.
Memiliki luas wilayah yang membentang dari ujung barat sampai ujung timur dunia. Wilayahnya mencakup tiga benua besar dunia, Afrika- Eropa dan Asia. Ibukotanya adalah kota yang sejak 1400 tahun yang lalu telah dijanjikan oleh
Rasulullah SAW sebagai kota yang akan jatuh ke tangan umat Islam. Rasulullah bersabda, “Qonstantinopel akan kalian bebaskan. Pasukan yang mampu membebaskannya adalah pasukan yang sangat kuat.
Dan panglima yang membebaskannya adalah panglima yang sangat kuat.. ” Berabad-abad lamanya umat Islam memimpikan realisasi kabar gembira Rasulullah itu. Namun sejak zaman Khilafah Rasyidah, Khilafah Bani Umayah hingga Khilafah Bani Abbasiyah, kabar gembira itu tidak pernah juga terealisasi. Memang sebagian Eropa sudah jatuh ke tangan Islam, yaitu wilayah Spanyol dengan kota-kotanya antara lain: Cordova, Seville, Granda dan seterusnya. Namun jantung Eropa belum pernah jatuh secara serius ke tangan Islam. Barulah ketika Sultan Muhammad II yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad Al-Fatih menjadi panglima, jatuhlah kota yang pernah menjadi ibu kota Eropa itu. Lewat pertempuran yang sangat dahsyat dengan menggunakan senjata paling modern di kala itu, yaitu CANON
atau meriam yang sangat besar dan suaranya memekakkan telinga, Muhammad Al-Fatih berhasil menjatuhkan kota konstantininopel itu dan menjadikannya sebagai ibu kota Khilafah Turki Utsmani. Serta menjadikannya pusat peradaban Islam.
Wilayahnya adalah tiga benua dengan semua peradaban yang ada di dalamnya. Saat itu
bulan sabit digunakan untuk melambangkan posisi tiga benua itu. Ujung yang satu menunjukkan benua Asia yang ada di Timur, ujung lainnya mewakili Afrika yang ada di bagian lain dan di tengahnya adalah
Benua Eropa. Sedangkan lambang bintang menunjukkan posisi ibu kota yang kemudian diberi nama Istambul yang bermakna: Kota Islam.
Bendera bulan sabit ini adalah bendera resmi umat Islam saat
itu, karena seluruh wilayah dunia Islam berada di bahwa satu naungan khilafah Islamiyah. Tidak seperti sekarang ini yang terpecah- pecah menjadi sekian ratus negara yang berdiri sendiri hasil dari jajahan barat.
Wajar kalau lambang itu begitu melekat di hati umat dari ujung barat Maroko sampai ujung Timur Marauke.
Inilah lambang yang pernah dimiliki oleh umat Islam secara bersama, bulan dan bintang. Dan lambang ini kemudian seolah menjadi lambang resmi umat Islam dan selalu muncul di kubah- kubah masjid.
Dan kalau kita perhatikan, nyaris hampir semua kubah masjid di berbagai belahan dunia punya lambang ini. Dan banyak institusi umat Islam yang juga memakai lambang ini, misalnya Masyumi di masa lalu. Bahkan di zaman reformasi, di Indonesia muncul Partai Bulan Bintang yang lambangnya
bulan bintang. Wallahu a`lam bish-shawab,
wassalamu`alaikum
warahmatullahi
wabarakatuh.

Cewek PremanJadi Trend DiBelanda

Cewek PremanJadi Trend DiBelanda


Amsterdam
- Penelitian
terbaru
di
Belanda
menyatakan
bahwa para
cewek
yang suka nongkrong di jalanan, ternyata lebih agresif ketimbang para cowok. Jika sebelumnya para cowok ditakuti, sekarang justru para cewek lebih disegani, karena lebih ganas. Di jalan atau di kendaraan umum, kaum hawa tersebut senang memancing keributan. Mereka biasanya sengaja memanjangkan kuku untuk menyakiti para korbannya, sering memancing keributan dan mengajak berkelahi para cowok. Menurut mereka, berkelahi dan menghajar lelaki bisa menaikkan gengsi, sebaliknya, buat kaum adam dipukuli oleh perempuan, menjatuhkan gengsi sebagai pria sejati. Perbedaannya, jika preman pria membuat keributan di tempat umum, biasanya melampiaskan kemarahan dengan merusak benda apa saja, merusak fasilitas umum, mencorat-coret, dsb. Sedangkan para preman wanita melampiaskan kemarahan terhadap lawannya dengan menjambak, menonjok, menendang, dst. Menggelikan, jika para cewek preman tersebut menganggap unjuk kesangaran sebagai bentuk “emansipasi”. Seperti mengejar “karier ” dengan melakukan tindak kekerasan di jalan agar dianggap setara dengan cowok. Hasil penelitian Departemen Kehakiman belum lama ini menunjukkan bahwa satu dari 100 cewek usia 12-17 tahun di Belanda, terlibat atau menjadi tersangka tindak kejahatan dan kekerasan. Rasa hormat dari lingkungannyalah yang dicari para cewek brandalan tersebut, selain bentuk “emansipasi” tadi. Agar ditakuti dan dihormati, bertindak agresif dan berlaku sangar sebagai bentuk penyelesaian dari apa yang mereka cari. Contoh lain, cewek super galak, super agresif , dan hobi cari ribut, berusaha memperoleh rasa hormat dari temannya lewat berhubungan
seks dengan banyak cowok. Sehingga dianggap hebat dan dihormati. Cerita lain mengatakan ada petugas konseling yang mengetahui salah satu cewek preman tersebut ternyata punya hobi masak, lalu ia diberi tugas menjadi koki di Pusat Bimbingan Konseling Remaja. Kini remaja di sana jadi menghormati sang cewek karena pinter masak, bahkan bersedia mengajarkan memasak buat semua remaja di sana. Akhirnya, kelakuan si cewek tadi berubah, dari sifat negatif ke positif.